Kamis, 30 Oktober 2014

Semburat Awan di Langit Biru



I. PERJALANAN PAGI
Fira terhentak dari lamunannya ketika Safa mengingatkan untuk bergegas turun dari metro mini yang mereka tumpangi. “Setiabudi – setiabudi” begitu teriak kondektur 604, memecah keheningan pagi yang masih begitu enggan menyapa hari. ‘Alhamdulillah aku tidak ketiduran selama di bis’, begitu Fira dalam hati. Namun tidak bisa dipungkiri hati dan pikirannya masih sangat dipenuhi dengan kejadian yang ia saksikan tadi pagi sekitar pukul 6, di Pasar Minggu. Terbayang seorang ibu lanjut usia yang sempat bertengkar kecil dengan seorang kuli belanjaan akibat ketidaksepakatan upah yang diterima sang kuli. Fira merasa miris sekali menyaksikan kejadian tersebut. Betapa banyak kaum wanita di kota maupun di desa yang begitu termaginalkan dengan perjuangan hidup di Indonesia yang semakin kompleks. Mereka memikul tanggung-jawab yang begitu besar secara fisik, materil, moril dan spiritual bagi anak-anak atau keluarganya – namun tidak pernah ada jaminan sosial, ekonomi dan hukum yang layak atas kerja keras yang telah mereka lakukan. Ia kemudian ingat akan Tante Rahayu – kakak ibu kandungnya yang ia tinggal bersamanya sejak kelas 1 SMU di Jakarta. Tantenya juga termasuk salah satu wanita pejuang sekaligus single parent yang gigih membesarkan putra-putrinya dengan keringat usaha menjual makanan kecil kepada para relasinya. Syukur Alhamdulillah, tante Rahayu tidak mendapatkan banyak kesulitan dalam menjalankan usaha catering kecilnya itu. Walau suami beliau telah berpulang sejak 2 tahun yang lalu, putra-putri mereka mampu hidup berkecukupan dari hasil usaha yang beliau jalankan. Tante memang seorang wanita supel yang terpandang dan memiliki relasi bisnis yang sangat luas bahkan beberapa kawannya di luar negeri sangat membuka peluang bisnis untuknya. Kadang ia mendapatkan titipan barang-barang ‘kosmetik’, ‘sepatu’, baju-baju’ bahkan ‘alat-alat rumah tangga’. Allah begitu pemurah melancarkan rizki bagi tante dan keluarganya itu yang tentu saja juga membantu Fira dalam membiayai biaya-biaya sekolahnya. Sementara itu kedua orang tua Fira juga masih sehat, namun mereka tinggal di Bandung bersama adik bungsunya. Ibunya seorang guru di beberapa sekolah negeri dan swasta di kota kembang tempat kelahirannya itu. Ayahnya seorang mantan pegawai negeri Departemen Pertanian yang telah pensiun dan sekarang mencoba menjalankan Agrobisnis buah-buahan dan tanaman hias di rumahnya, Jl. Tubagus Ismail 10 A – Bandung. Namun nampaknya bisnis ayahnya tidaklah terlalu semarak dengan tingkat penjualan yang memadai. Fira melihat ayahnya memang kurang bekerja keras dibandingkan ibu dan tantenya, namun keluarga mereka cukup bisa bertahan hidup dengan gaya hidup menengah, tidak sulit - tidak juga mewah.
”Fir, kita lewat gang kecil itu saja ya – jalan pintas, lebih aman dan cepat”, Safa mengusulkan sambil menarik tangan Fira agar mengikutinya. Fira menuruti saja keinginan sahabatnya itu karena ia merasa jika mengambil jalan raya untuk sampai ke sekolah mereka, SMU 2  – yang merupakan salah satu sekolah favorit di Jakarta, mereka harus bersaing dengan mobil-mobil pribadi para siswa anak-anak gedongan yang jumlahnya dari hari ke hari makin memadati kompleks pendidikan yang lahannya sangat terbatas itu. Di samping itu ia ingat ada seorang bocah usia belasan yang hampir setiap waktu berseliweran sekitar kawasan itu, tanpa tujuan yang jelas. Bocah itu sesungguhnya masih waras. Hanya karena lemahnya akal dan mental yang agak terbelakang serta ketiadaan keluarga yang peduli padanya, akhirnya ia hanya menjadi ’orang gila’ yang jadi bulan-bulanan masyarakat dan ditakuti oleh anak-anak sekolah di kawasan Setiabudi itu. Pejo, begitu para tukang ojek, tukang bengkel, tukang parkir, abang bakso, ketoprak, dan siapapun warga yang mengais rezeki di kawasan itu memanggilnya. Pejo hidup tak menentu, hanya berjalan kian kemari – kadang diam, kadang menjahili orang yang lewat, dan yang paling sering jadi korban adalah para siswa wanita remaja yang cantik-cantik. Itulah sebabnya Fira berpendapat Pejo masih waras karena mampu dengan baik membedakan wajah cantik dan biasa-biasa saja Kalau sudah begitu korban hanya merinding, menghindar dan lari ketakutan tanpa boleh berekspresi takut karena jika Pejo menyadari ketakutan orang yang digodanya, ia akan semakin ’bahagia’ menggoda. Pejo hidup dari belas kasihan warga masyarakat Setiabudi tanpa mampu memperbaiki nasib dirinya yang sungguh malang.     

II. SMUN TERCINTA KAMI
Tak terasa langkah mereka semakin mendekati gerbang sekolah. Nampak kemegahan gedung sekolah peninggalan zaman Belanda itu SMUN 2 Jakarta memang benar-benar kuno secara fisik dan hukum, itulah sebabnya banyak para pejabat sejak zaman orde baru banyak menitipkan putra-putri mereka untuk dididik di sekolah ini, karena percaya pada pengalamannya sebagai sekolah yang telah melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dalam berbagai bidang di Indonesia. Seperti biasa satpam sekolah sudah setia menyapa orang-orang penting yang memasuki halaman sekolah. Cafe Ncik di depan gerbang sekolah, masih kelihatan sepi- hanya sepasang siswa siswi nampak berbincang-bincang sangat mesra sambil berpegangan tangan seolah takut kehilangan satu sama lain. Nampak mereka memiliki ikatan emosional yang sangat kuat – entah apa yang diperbincangkan. Jika mereka bicara masalah pelajaran, tidaklah sesuai cara berinteraksi mereka dengan topik pelajaran apapun. Di sekolah favorit nomor 2 itu memang sangat lazim pasangan siswa-siswi berbincang mesra sekali seolah dunia milik mereka berdua – seolah tidak ada manusia lain di sekita mereka, yang lain kontrak !.Kadang mereka berjalan beriringan memadu kasih sepanjang jalan kenangan sambil senyum-senyum berdua atau saling bergandeng mesra – seolah tak akan pernah terpisahkan.Fira geli sekaligus prihatin menyaksikan peristiwa kemanusiaan, yang kadang melanggar nilai-nilai kewajaran dan kesopanan itu. Apalagi mereka adalah pelajar yang sesungguhnya dituntut untuk mampu berpikir rasional, analisis, sistematis dan metodis – tidak hanya dalam menghadapi masalah-masalah akademis di kelas namun juga di persoalan-persoalan di luar sekolah, di keluarga bahkan di masyarakat. Namun di zaman globalisasi saat tidak jelas nilai benar-salah, baik-buruk atau haq – batil dalam bahasa Qurani, siapa mau peduli dengan persoalan ’kecil’ masalah yang dianggap pribadi seperti itu ? Memang di SMUN 2 Jakarta ada Rohani Islam yang cukup tanggap mendiskusikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan bahkan politik di negeri ini. Aturan pergaulan antara Muslim dan Muslimah juga sudah sangat sering diangkat menjadi wacana yang sangat diminati oleh para siswa intern dan ekstern SMUN 2. Namun sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran mereka akan konsep HIJAB dalam Islam, yang tidak semata-mata masalah Jilbab seperti yang selama ini disalahpahami; fenomena pergaulan bebas juga semakin marak. Para ikhwan dan akhwat tidak pernah bosan memberikan contoh pergaulan remaja yang Islami sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan teladan Rasulullah saw, dan itu mereka pahami sebagai tanggung jawab seorang Ulil Albab atau tanggung jawab sosial seorang calon intelektual di hadapan Allah swt. Fira belum seorang jilbaber atau aktivis Rohis, tapi ia sepakat dengan nilai-nilai yang diajarkan di Musholla An Nur yang ia cintai tersebut.

III. PAGI YANG BERMAKNA
”Hi, Fir, kau bawa puisi yang aku pesan kemarin ?”. Seorang gadis berwajah oval mungil dengan rambut lurus pendek – menyapa ceria sambil mengingatkan janji Fira. Dengan ramah Fira menjawab, ”Certainly dear, I try not to forget my promise, especially for you!”. Fira membalas dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih. Ia memang cukup menonjol untuk mata pelajaran yang satu itu. Bukan dalam rangka sombong ia sering mempraktekkan kemampuannya itu, tapi semata-mata karena ia merasa dapat berekspresi dengan lebih pas jika menggunakan bahasa Inggris. Tak terasa langkah mereka, Fira, Safa dan Asih sudah sampai di kaki tangga. Safa said ‘bye’, dan belok ke kanan untuk masuk ke kelasnya, sedang Fira dan Asih bergegas menaiki tangga di lantai 2 gedung 4 lantai tersebut. Terlihat Sapto dan sekretarisnya Tanti sedang bergegas menuruni tangga. Sapto sibuk berargumentasi dengan gayanya yang khas. Fira tersenyum dalam hati mengingat bagaimana Sapto berhasil terpilih menjadi ketua OSIS periode 2005/2006 karena tebar pesonanya dalam berorasi. Ia menang mutlak dari 2 pesaingnya, yaitu Ivan dan Aji yang berkarakter sangat berbeda dengan dirinya. Ivan bicara sangat tenang cenderung tanpa emosi, walau bobot akademis kampanyenya sangat sarat, tapi tidak cukup mampu menarik hati audiance yang sangat dinamis itu. Sedangkan Aji, yang juga pengalaman organisasinya segunung tapi karena wataknya agak kaku, ala disiplin militer – audiance tidak jatuh hati kepadanya. Sebenarnya Sapto tidaklah terlalu pintar, bahkan prestasi akademisnya biasa-biasa saja. Tapi ia berhasil memadukan pengetahuan teori yang ia miliki dengan ketrampilan praktis berorganisasi, ditambah dengan sifat lucu dan kreatifnya yang membuat ia seperti magnet, mampu menarik mayoritas suara pemilih ketua OSIS yang lalu. Sapto kadang berbicara tidak runtun, seringkali loncat-loncat dari satu topik ke topik pembicaraan yang lain, namun ia memang mampu menampilkan ide-ide cemerlang yang memberi spirit, dan kemampuan empatinya cukup besar. Sapto nampaknya berbakat menjadi seorang orator ulung kalau ia tidak salah langkah dalam mengembangkan dirinya. ’Memang hidup penuh dengan berbagai kemungkinan’, demikian kata suara hati Fira.
Jam menunjukkkan pukul 06.50 ketika mereka sampai di kelas 2 IPA 5. Ada sekitar 12 siswa sudah memasuki kelas berukuran 6 x 8 itu. 2 siswa piket sedang membersihkan kelas dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Sampai di mejanya, Fira mengeluarkan puisi yang ia janjikan kepada Asih-kawan sebangkunya. Puisi tentang keperdulian lingkungan, berjudul ” Seandainya Jakarta Lebih Manusiawi” yang mengekspresikan harapan seorang gadis dari desa akan Jakarta yang lebih manusiawi, lebih bersih, lebih beradab, lebih santun dan lebih adil. Suatu utopis barangkali, tapi itulah harapan yang jujur dari suara hati yang paling dalam. Lagipula ia sudah paham dan sedang belajar bahwa seorang Mukmin sejati tidak pernah berputus asa pada Rahmat Allah swt, akan segala harapan-harapan yang nampak begitu sulit diwujudkan. Rencana puisi itu akan dibacakan Asih dalam Pentas Seni yang akan digelar seminggu lagi, sebelum Perpisahan kelas 3 berlangsung.
Bel tanda masuk berbunyi. Pak guru kimia memasuki kelas setelah 7 menit kemudian. Anak-anak sibuk menyelesaikan PR tentang Reaksi Redoks yang tergolong sulit itu. Pak Mursyid, guru kimia mereka adalah tipe guru yang sangat cakap dan komunikatif. Beliau sangat cerdas dan bijak, para siswa sangat respek kepadanya – namun tetap saja ada suara-suara aneh tentang guru ideal yang sudah mengabdi di SMUN 2 Jakarta selama lebih dari 20 tahun itu. Sudah tak terhitung murid-murid yang berhasil dicetak dari ’tangannya’. Data keberhasilan siswa menunjukkan betapa kompetennya P Mursyid mendidik murid-muridnya sehingga mampu sukses dalam bidang-bidang apapun yang mereka geluti di masyarakat. Beliau tidak hanya mengajar tapi mendidik, membentuk karakter siswa sehingga mampu berpikir analisis – sintesis, logis – rasional, sistematis –metodis, yang ternyata semua itu membentuk perilaku dan kepribadian yang sangat sopan dan santun. Karena P Mursyid sendiri juga seorang guru yang berkepribadian santun dan sangat berwawasan luas serta sangat religious dan berakhlaqul karimah.. Beliau adalah pembina OSIS untuk bidang Rohani Islam, di bawah bimbingannya Rohis begitu berwibawa di mata OSIS dan Civitas Akademika yang lain, karena Rohis mampu menampilkan argumen-argumennya yang yang rasional dan ilmiah berdasarkan Al Quran dan Sunnah.Ajaran beliau yang utama adalah itikad baik, kesungguhan dan keikhlasan. Satu ’kekurangan’ beliau adalah bicaranya yang singkat, tidak boros kata-kata, padahal beliau mengajarkan mata pelajaran yang sangat sulit.  Itulah sebabnya, ketika P Mursyid menerangkan suasana kelas begitu hening tak bergeming, selevel suasana kuburan di malam hari. Jangankan bersuara, menggeser taspun, siswa akan berpikir dua kali, bukan karena beliau galak tapi karena siswa tak ingin kehilangan sepersekian detikpun untuk memahami semua keterangan P Mursyid.
Tak terasa 2 x 45 menit untuk pelajaran Kimia berlalu dengan berhasil diselesaikannya 10 soal reaksi redoks secara kolektif. Pak Mursyid mengakhiri pelajaran dengan memberikan 5 soal variasi dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada yang berhasil mereka selesaikan pagi itu. Semua soal-soal PR dalam kapasitas siswa mampu mengerjakannya. Pak Mursyid mengingatkan,  ”Anak-anak, coba kerjakan soal secara mandiri terlebih dahulu, baca kembali teori-teorinya, ingat apa yang telah bapak terangkan. Jika masih sulit juga baru kalian boleh berdiskusi. Hindari menyalin jawaban teman tanpa berpikir karena hal itu akan membuat kalian bergantung pada teman. Paham anak-anak ?”. ”Paham pak !”, serentak anak-anak menjawab spontan.”Assalamualaikum anak-anak”, seru Pak Mursyid. ”Waalaikumsalam Pak”, jawab anak-anak dengan penuh keikhlasan. Jam ke 3 - 4 adalah mata pelajaran Matematika. Sebenarnya ini juga mata pelajaran favorit para siswa 2 IPA 5, yang tergolong pintar itu. Namun entah mengapa, pagi itu pelajaran Matematika terasa sangat membosankan – kurang menarik, tidak ada sesuatu yang dapat memacu semangat. Hukum-hukum Trigonometri yang biasanya jadi santapan lezat para siswa, terasa begitu hambar dan beku. Mereka merasa berat sekali melewati detik-detik pengerjaan soal yang diberikan oleh Ibu Citra. Mungkin karena cara menerangkannya kurang inovatif, soal-soal yang terlalu teoritis – jauh dari penerapan sehari-hari dalam kehidupan mereka. Memang belajar menuntut daya kreativitas yang tinggi untuk dapat mengapresiasikan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sangat teoritis itu. Dibutuhkan bukan hanya ketekunan namun juga filosofis, kreativitas, kemerdekaan berpikir serta keberanian mental mengkaji sesuatu sampai ke akar-akarnya. Tetapi walaupun merasa bosan, para siswa tetap mengikuti pelajaran dengan baik. Mereka memang anak-anak yang mampu berempati dengan guru-guru, dan siapapun yang berbuat baik dan sangat berjasa dalam kehidupan mereka.
Waktu istirahat diisi dengan beragam aktivitas yang melepaskan kejenuhan dan ketegangan. Sebagian siswa pergi ke kantin untuk mengisi perut-perut mereka yang memang sudah terasa kosong dan berbunyi berkali-kali. Tempat jajan utama siswa cukup banyak di sekolah yang besar itu. Ada 3 kantin utama, yaitu kantin dekat koperasi, warung ibu Ajum, cafe Ncik di depan gerbang utama – belum lagi para pedagang bakso, ketoprak, pempek, lontong sayur dengan gerobak sepanjang jalan Setiabudi 2. Tidak sedikit siswa yang mengisi istirahatnya dengan bermain basket, volley atau sepakbola di lapangan sekolah yang luas itu. SMUN 2 Jakarta terdiri dari 3 Jurusan : IPA, 14 kelas, IPS 8 kelas dan Bahasa 4 kelas, jadi total 26 kelas, dengan jumlah siswa perkelas hanya rata-rata 30 siswa –jadi total siswa SMUN 2 adalah 780 per angkatan atau sekitar 2340 siswa seluruh angkatan. Jumlah yang sangat tidak sedikit tentunya, yang menuntut Manajemen Sekolah yang dikelola dengan baik, dengan jiwa amanah dan dedikasi yang penuh dari setiap unsur pimpinan dan pegawai sekolah untuk jabatan apapun.

IV. BINCANG-BINCANG BACA PUISI
Fira dan Asih sedang akan menyebrang jalan Setiabudi 2 ketika Yoyok, ketua Biro Kesenian OSIS mendekati mereka dan bertanya, ”Bagaimana Sih, siap dengan pembacaan puisi Fira yang religious ?”.”Insya’Allah, Yok – Fira memang baru memberikan puisinya tadi pagi – tapi aku sudah merasa familiar dengan cerita dan bahasa Fira”, sahut Asih. ” Kau sendiri bagaimana, siap dengan Puisi bahasa Inggrismu yang berjudul ........?” lanjut Yoyok, ”Let Nature Speak”, sambung Fira melengkapi.”Oh iya itu”, sahut Yoyok lagi.”Insya’Allah Yok, aku coba mencari detail teatrikalnya.”Jam berapa kamu nanti latihan, Sih ?”, tanya Fira pada sahabatnya yang sekretaris Sie Teater itu.”Insya’Allah jam 3, selesai makan, shalat dan rapat OSISl”. ”Ok, May I join your exercise then ?” asked Fira, ”Why not1, with pleasure !”. ”Well, wish you all luck, girls”, Yoyok menimpali. Mereka bertiga tertawa ceria penuh rasa syukur, dan bergegas memesan mpekmpek yang hampir habis, makanan favorit mereka.
Kunyahan Asih terakhir, Fira yang lebih dahulu selesai dan menyodorkan minum pada sahabatnya,  ketika bel istirahat selesai. Mereka bergegas kembali ke kelas, mpek-mpek sudah dibayar di awal, itulah kebiasaan mereka dalam membeli makanan apapun. Para siswa berebutan masuk ke kelas mereka masing-masing, sambil terus mengobrol, becanda bahkan ada yang sambil bermain games atau masih berhandphone ria. Dua jam terakhir adalah Bahasa Inggris oleh ibu Sri Rejeki. 10 menit berlalu, ibu Sri Rejeki belum kunjung tiba di 2 IPA 5, sesaat datang ketua kelas yang menyampaikan bahwa ibu Sri Rejeki sakit, dan ada tugas Translation dari beliau tentang Global Warming, yang harus dikumpulkan hari itu juga. Para siswa bergegas mencari kamus Inggris-Indonesia & Indonesia – Inggris. Fira tenang saja di bangkunya karena ia sudah memiliki Oxford Dictionary English-English, dan kamus khusus Idioms yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi – sementara Asih menggunakan kamus seperti kawan-kawannya, tapi miliknya sendiri.
Translation adalah ketrampilan yang membutuhkan penguasaan grammar yang akurat, wawasan kosa kata yang memadai, seni menyusun kalimat dengan pilihan kata-kata yang tepat, dan kelihaian menangkap pesan wacana yang diterjemahkan. Lebih dari 50 % siswa 2 IPA 5 menguasai bahasa Inggris cukup baik, namun Fira masih di atas kemampuan rata-rata teman-temannya itu. Mereka tertantang untuk bekerja secara mandiri tugas Translation itu, namun banyak pula yang enggan membuka kamus dan lebih memilih untuk bertanya pada Fira, yang mereka anggap cukup pakar di antara mereka. Al hasil Fira sangat sibuk membantu dan menjawab ke sana – kemari. Alhamdulillah, ia juga cukup tegas membatasi bantuan sampai ia berhasil menyelesaikan hasil Translationnya yang siap dikumpulkan pada ibu Sri Rejeki, melalui ketua kelas – Adista.  

V. SIRAMAN ROHANI PAK MURSYID
Siang itu Fira dan Asih melaksanakan shalat Zuhur berjamaah di Musholla An Nur. Lumayan ada sekitar 20 jamaah putri dan 30 jamaah putra yang bergabung dalam Kultum siang itu, yang disampaikan oleh Bapak, H. Mursyid, SPd – selaku pembina Rohis SMUN 2 Jakarta. Temanya tentang ”Bergaul Dengan Baik”. Menurut orang-orang bijak, manusia adalah makhluk sosial – artinya mereka harus berkumpul dengan sesamanya supaya dapat saling menyemangati, saling melengkapi dalam pekerjaan, dan saling mendukung dalam usaha. Banyak jenis binatang yang sama dengan manusia dalam hal mencari penghidupan. Tetapi cara dan rencana yang mereka gunakan berbeda-beda. Al Qur’an Al Karim mengingatkan hal itu dalam beberapa ayat; tentang beragam bangsa misalnya, Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Hujurat : 13, yang artinya :
”Dan Aku jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”. Karena itu saudara-saudaraku seiman-seperjuangan, kita tidak layak merasa bangga karena keturunan kita, kekayaan kita, kedudukan kita atau bahkan kepandaian kita sekalipun – karena ada ukuran yang lebih mutlak di ’mata’ Allah swt, yaitu ’Taqwa’.
Tentang saling menolong yang benar, Allah Ta’ala berfirman :
”Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.(Al Maidah : 3)
            Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang hubungan antar sesama orang mukmin : ”Orang mukmin satu dengan mukmin yang lainnya itu laksana bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain”
            Dalam QS Al Hujurat : 10, Allah Ta’ala berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”.  Rasulullah saw, bersabda : ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling berkasih sayang di antara mereka adalah seperti perumpamaan sebatang tubuh yang apabila salah satu anggotanya merasa demam maka anggota-anggota yang lainnya ikut merasa demam dan bergadang”
            Dari dalil-dalil di atas jelas bahwa di antara sesama Muslim, apalagi Mu’min – wajib saling menolong. Kita adalah satu tubuh – bukan bagian yang terpisah-pisah, jadi penderitaan seorang Muslim/Mu’min adalah juga penderitaan Muslim/Mu’min yang lain – begitu pula kebahagiaan/keberhasilan seorang Muslim/Mu’min adalah kebahagiaan Muslim/Mu’min yang lain.
            Demikian saudara-saudaraku, anak-anakku yang bapak cintai – sampai di sini pembahasan Kuliah Tujuh Menit kita. Semoga kita selalu dalam Hidayah ALLAH SWT. Bapak akhiri dengan ’Wabillahi Taufik Wal Hidayah – Wassalamualaikum Wr Wb’.

VI. RAPAT OSIS SAPTO
            Waktu menunjukkan 5 menit menuju pukul 2 siang, Fira dan Asih merasakan kantuk yang luar biasa, apalagi angin semilir yang bertiup di sekitar teras Musholla begitu menyejukkan. Tapi tentu saja mereka tidak boleh terlelap walau hanya 10 menit karena tepat pukul 14.00, akan diadakan rapat OSIS, pertemuan koordinator Sie – Sie, yang akan membicarakan persiapan Pentas Seni Siswa Peduli SMUN 2 Jakarta – yang akan berlangsung hari Sabtu, minggu depan. Asih adalah bendahara Sie Teater, sedangkan Fira adalah Koordinator Sie English – Conversation. Asih mewakili Irdam – koodinator Sie Teater yang berhalangan hadir karena sibuk mempersiapkan pentas Drama Anak Jakarta, yang merupakan acara puncak Pentas Seni Siswa Peduli SMUN 2 yang mereka banggakan itu.
            Sapto sendiri yang memimpin rapat OSIS para Koordinator Sie, yang didampingi oleh sekretaris yang setia Tanti, dan bendahara utama; Zahra. Para pejabat Teras OSIS adalah team yang sangat kompak dalam menjalankan tugas-tugas organisasinya. Sapto memulai rapat dengan membaca Ta’awuz - Basmallah, dilanjut dengan Puji-pujian terhadap ALLAH Swt dan Salam & Shalawat untuk Rasulullah saw – Uswah & Teladan umat Islam dan Al Insan sampai akhir zaman. Di dalam forum tersebut, ada Christa dari Sie Rokris dan beberapa siswa non Muslim lainnya. Namun Sapto tidak ragu-ragu menyampaikan Opening Rapatnya itu dengan Do’a Islami, bukan karena ia tidak menghargai mereka yang non Muslim, tapi karena itulah Do’a Universal yang insya’Allah membawa keselamatan untuk seluruh mahluk hidup di Jagad Raya ini.
            Seluruh Sie dalam Struktur OSIS mendapatkan kesempatan untuk menampilkan satu pertunjukkan dalam PenSi tersebut. Sie Marching Band, Sie Vokal Group & Dance, Sie Rohani Islam dan Sie Rohani Kristen, Sie Conversation & Orasi, Sie Sosial & PMR, bahkan Sie Pencinta Alam & Olah Raga – serta yang terpenting adalah Sie Teater. Setiap Sie menyampaikan persiapan yang telah mereka lakukan. Yoyok menyampaikan durasi waktu yang dimiliki setiap Sie untuk tampil di panggung, rata-rata antara 7 – 10 menit. Rapat berjalan relatif lancar karena masing-masing Sie sudah mempersiapkan paket performance mereka dengan baik. Persiapan mereka sudah dimulai sejak sebulan yang lalu, 2 minggu setelah kepengurusan OSIS yang baru tahun ajaran 2005/2006 terbentuk. Sapto nampak puas dengan kerja para stafnya, sementara beberapa peserta berbincang dengan ketua OSIS yang cukup merakyat itu – Zahra sibuk memberikan ulasan tentang Anggaran yang mereka miliki dalam kegiatan ini. Selain dari sumbangan persiswa sebesar Rp 10.000,- panitia juga mendapatkan kucuran dana dari beberapa sponsor, yaitu : Bank Sakti, MyDRINK dan NURSafa Publisher serta Edeniqro’ Ltd.”Alhamdulillah, sampai saat ini panitia berhasil menghimpun dana sebesar Rp 24.578.100,-” begitu Zahra menerangkan.”Setiap Sie akan mendapatkan subsidi sebesar Rp 750.000,-; konsumsi Rp 6.000.000; Dekorasi Rp 3.000.000,-, Dokumentasi Rp 4.500.000,-, Transportasi Rp 2.000.000,- dan sisanya akan dibagi-bagikan kepada anak-anak Yatim dan Jalanan sekitar kawasan Setiabudi ini. Semoga semua tidak keberatan dan dapat rencana dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan, bagaimana teman-teman ?” tanya Zahra kepada seluruh peserta rapat. Nampak tidak ada yang keberatan.Pukul 15.15, rapat ditutup dengan hikmat. Begitu Sapto mengucapkan salam penutup – Azan Ashar berkumandang dan mayoritas siswa yang beragama Islam bergegas ke Musholla untuk shalat berjamaah.

VII. PERJUANGAN SISWA TEATER
            Fira merasakan kelelahan yang luar biasa selepas Ashar berjamaah, ia sedang berpikir untuk membatalkan bergabung latihan teater – membaca puisinya sendiri yang berjudul Let Nature Speak; ketika seseorang mendekatinya dari balik hijab. Seorang ikhwan menyapa santun sambil mengucapkan salam dengan lirih tetapi jelas. Ternyata Adista, ketua kelasnya yang juga salah satu pengurus Sie Rohani Islam di SMU 2 Jakarta. Ternyata Adista ingin minta bantuan Fira untuk translate konsep ISLAMIC EDUCATION yang ia dapatkan dari internet sejumlah 5 halaman. Fira menyanggupi dalam waktu 2 hari karena ia merasa cukup banyak tugas-tugas sekolah maupun tugas membantu tante Rahayu memasarkan kue-kuenya. Adista berterima kasih dan mengucapkan salam.
            Pukul 16.50 sanggar teater sudah cukup dihadiri para anggota teater yang akan berlatih sore itu. Fira mengambil posisi agak di pojok agar tidak nampak ia sedang kelelahan. Asih sibuk berdiskusi dengan beberapa rekan teaternya. Ketika tepat pukul 4 sore, latihan belum juga dimulai, Fira mulai berpikir ulang untuk melanjutkan ’join’ latihan teater persiapan PenSi tersebut. Toh ia bukan pemeran utama, apalagi pembacaan puisinya bersifat mandiri – itupun ia mewakili Sie Conversation-Orasi yang dipimpinnya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk berpamitan saja pada Asih, sahabatnya yang sedianya akan ia saksikan penampilannya.”Sih, maaf banget ya aku gak jadi lihat kamu latihan, I’m extremally exhausted – will you let me go home now, dear ?” Fira request pada Asih.”Ya udah Fir, kalau kamu capek, it’s ok you go home first”, jawab Asih ringan.”Thanx ya Sih, wish you perform the best” timpal Fira lagi. “No problem, take care ya Fir”, “Assalamualaikum”, salam Fira sambil melambaikan tangan “Waalaikum salam” Jawab Asih dan temanteman yang lain.

VIII. FIRA PULANG SEKOLAH
            Fira nyaris tertidur total di metro mini 604 yang ia tumpangi. Namun selama di bis, ia sempat berplanning bagaimana membantu tante Rahayu memasarkan kue-kue kecilnya. Jika tidak ada kegiatan Excul, biasanya ia masih memiliki cukup waktu untuk menawarkan kue-kue tantenya kepada beberapa guru, karyawan bahkan teman-temannya sendiri. Tapi ia juga tidak menyesal memiliki kegiatan yang segudang itu, demi untuk perkembangan dirinya, Ia juga berencana untuk memanfatkan momen PenSi nanti untuk sekedar menawarkan pada audiance yang hadir – santai saja tapi harus jujur, ramah dan meyakinkan- begitu kiat pemasarannya. 
            Rumah Sakit Tria Dipa nampak di seberang jalan dari posisi 604 yang Fira tumpangi. Tak terasa bis hampir sampai Apotek Pasar Minggu. Kemacetan selama satu setengah  jam tidak ia rasakan karena ia tidur selama di 604. Fira bergegas menuju pintu dan dengan sigap mengetuk atap bis sambil berteriak ”Kiri ya Pak” baik kepada kondektur maupun supir di depan. Sukur Alhamdulillah hari tidak hujan , sehingga walaupun hari sudah menjelang senja, ia tidak terlalu merasa kerepotan untuk sampai di rumah dengan selamat. Tadi di sekitar Duren Tiga ia sudah mendengar azan Magrib berkumandang, namun karena mengantuk luar biasa ia tidak sempat membaca-baca doa menyambut waktu magrib. Sekarang ia mencoba beristigfar dan mengucapkan Asmaul Husna dan Shalawat apa saja yang ia hafal di luar kepala. Tidak sulit ia menyebrang dan mendapatkan minicab biru 61 jurusan Pasar Minggu – Pondok Labu, walau tempat duduknya sangat pas – tapi ia tetap naik mobil terakhir yang mengantarkan ia ke rumah tante Rahayu di belakang SMK 67  – kelurahan Rawa Terang itu.
            Memasuki halaman rumah tante, ia bergegas keluarkan kunci rumah yang memang diberikan oleh tante untuk mempermudah ia keluar masuk rumah tersebut. Tante Rahayu seorang wanita Jawa yang sangat lembut namun cerdas dan berpikiran maju, sangat demokrat dan toleran terhadap anak-anak dan keponakannya. Ia teringat pada Bunda di Bandung yang tinggal bersama Ayah dan adik bungsunya. Ia terharu mengingat keluarganya yang begitu care dan sayang kepadanya- keluarga inti dan keluarga besar, dan begitu juga sebaliknya. Ia sangat bersyukur pada Allah swt yang telah memberikan nikmat yang begitu besar kepadanya; nikmat iman, nikmat sehat, nikmat kasih sayang, nikmat kecerdasan dan bakat, nikmat silahturahmi, nikmat rizki yang barakah, nikmat lingkungan yang bersahaja dan nikmat-nikmat lain yang manusia tidak sanggup menghitungnya satu persatu. Allahu Akbar – 1 hari yang padat telah ia lewati dengan penuh kesungguhan. Semoga bernilai ibadah di hadapan Allah swt. Tante Rahayu sedang melaksanakan Shalat Magrib sendiri di kamarnya, iapun bergegas berbenah untuk segera menghadap pada Sang Khaliq.


SENJA

Senja menawarkan ketenangan
Membuka diri melepas risau
Hari-hari lampau
Merebahkan letih ambisi duniawi

            Senja menawarkan kearifan
            Menatap lurus hanya ke depan
Melangkah takzim siratal mustakim

            Senja menawarkan angin
            Lembut semilir, ngelangut
            Mengurai butir-butir khianat
            Alpa bahkan murtad
            Membimbing tobat

                        Allah !, tunggu sekejap
                        Aku akan menghadap

                                                                        November ’92
                                                            dari ZIKIR – Dendang Kerinduan
                                                            oleh S. Saiful Rahim.



Sebret, 17 Mei 2008
dalam Kesenduan dan Kesendirian
by Nur Safa Putri Virginia (Susi Agustini Fathimah Az-Zahra)
Untuk Bubu-Papa, kakak-kakak,  keponakan-keponakan, All Yu dan Teman-teman serta Murid-murid yang sensitif, cerdas dan mampu berempati pada sesama yang kekurangan. Juga terutama untuk anak-anakku di Taman Rahmah yang shaleh, lucu dan pintar. Selamat beribadah dan berprestasi selalu. Cinta ibu karena Allah swt & Rasul saw, untuk kalian semua. Amin.

JAKARTAKU - HARAPANKU




SEANDAINYA JAKARTA LEBIH MANUSIAWI

Kawan………….
Ingatkah saat kita baru saja singgah di kota ini ?
Dari desa tandus tempat kelahiran kita di pinggir pantai selatan P Jawa
Apa yang kau rasakan saat itu ?
Ku lihat matamu berbinar, penuh harapan membumbung
Akan nasib yang membaik di kota Metropolitan ini ?

          Dari detik ke menit, menit ke jam, kita lalui bersama.
          Ada sinar mata yang meredup terpancar dari sudut wajahmu
Saat itu kau belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang kau impikan
Menjadi bintang iklan makanan-minuman instan, atau sekedar figuran roman picisan
         
Dan ketika ada tawaran bekerja di pabrik konveksi kenalan Paman
Tanpa pikir panjang kau menolak mentah-mentah
Entah apa yang ada di pikiranmu
Aku tak paham argumenmu menolak
Yang kutahu itu adalah jalan terhormat menyambung hidup yang makin sulit

          Tak selamanya keinginan kita terpenuhi, kawan
Tiba-tiba banjir yang menggenangi rumah pamanmu seolah badai dalam hidupmu
          Pakaian-pakaianmu hanyut terbawa arus
Buku-buku yang kau niatkan sebagai bekal melanjutkan sekolahpun raib entah kemana.
Kasur dan perabotan rusak berat, saling copot besi, kayu dan paku-pakunya.
Bibi tempat engkau curhat jatuh sakit dan berpulang kepadaNYA
Engkau dan paman merasa sangat terpukul
Seolah hidup berakhir
Paman membujukmu untuk kembali ke desa
Tapi engkau gengsi setinggi langit karena merasa tidak punya wajah lagi

Kawan, kutahu bagaimana perasaanmu menghadapi cobaan hidup
Kucoba untuk mengajakmu sering-sering ke Mesjid
Untuk menata hidup lebih baik
Sayangnya kau menolak, dengan alasan semua itu kuno dan basi
Mesjid hanya untuk mereka yang sudah berbau tanah
Padahal usia manusia kita tak pernah tau persis

          Kau silau dengan kehidupan para selebriti
          Yang berbudaya gincu, dugem dan senang diberitakan
          Gosip  yang jadi konsumsi khalayak ramai
          Menjadi bintang iklan, dan bintang-bintang yang lain
          Dan hidup dugem serta menjadi topik entertaining,
          Itulah cita-citamu tertinggi

Sementara itu Jakarta semakin sarat dengan permasalahannya.
Banjir belum tuntas, menyusul kasus Taman Lawang, Narkoba yang membuat sakau generasi muda, remaja putri korban pelecehan, ancaman HIV, pengangguran, polusi yang semakin pekat, curanmor dan masih segudang lagi permasalahan memuncak di Metropolitan kita ini.

Saling terkait antara Moral, Sosial, Budaya, Ekonomi bahkan Politik korban kapitalist kaum Jahili. Namun seolah matamu tertutup. Untuk mau meniti jalan yang diridhoi.

Kawanku, dengarlah saranku ini. Aku sayang kau, aku cinta kau, kau saudaraku seiman,senasib- sepenanggungan.
Bahkan kita menghabiskan masa kecil bersama-sama di desa Emak dan Bapak kita.

Kawanku, saudaraku, ...................
Kembalilah pada Yang Menciptakan kita
Yang selalu peduli pada nasib kita
Yang tidak pernah mengabaikan kita
Asalkan kita mau menurutiNYA
Untuk hidup menurut MauNYA.
Sebab kita tidak punya pilihan lain

          Oh, saudaraku – seandainya Jakarta Lebih Manusiawi
          Aku tidak akan ’memaksamu’
          Namun kita adalah satu.
          Sakitmu juga sakitku
          Masihkah hatiMU tertutup
          Untuk menerima DIA sumber Kemanusiaan
          Dan CINTA Sejati hamba yang shaleh
          Pendamba KEBENARAN Sejati
         
Mari saudaraku
Waktu belumlah usai...........
Ku masih menunggumu......................
                                                                             Sebret, 15 Mei 200....
                                                                   based on Honesty by Safira