I. PERJALANAN PAGI
Fira
terhentak dari lamunannya ketika Safa mengingatkan untuk bergegas turun dari metro
mini yang mereka tumpangi. “Setiabudi –
setiabudi” begitu teriak kondektur 604, memecah keheningan pagi yang masih
begitu enggan menyapa hari. ‘Alhamdulillah aku tidak ketiduran selama di bis’,
begitu Fira dalam hati. Namun tidak bisa dipungkiri hati dan pikirannya masih
sangat dipenuhi dengan kejadian yang ia saksikan tadi pagi sekitar pukul 6, di
Pasar Minggu. Terbayang seorang ibu lanjut usia yang sempat bertengkar kecil
dengan seorang kuli belanjaan akibat ketidaksepakatan upah yang diterima sang
kuli. Fira merasa miris sekali menyaksikan kejadian tersebut. Betapa banyak
kaum wanita di kota maupun di desa yang begitu
termaginalkan dengan perjuangan hidup di Indonesia yang semakin kompleks.
Mereka memikul tanggung-jawab yang begitu besar secara fisik, materil, moril
dan spiritual bagi anak-anak atau keluarganya – namun tidak pernah ada jaminan
sosial, ekonomi dan hukum yang layak atas kerja keras yang telah mereka
lakukan. Ia kemudian ingat akan Tante Rahayu – kakak ibu kandungnya yang ia
tinggal bersamanya sejak kelas 1 SMU di Jakarta.
Tantenya juga termasuk salah satu wanita
pejuang sekaligus single parent yang gigih membesarkan
putra-putrinya dengan keringat usaha menjual makanan kecil kepada para
relasinya. Syukur Alhamdulillah, tante Rahayu tidak mendapatkan banyak
kesulitan dalam menjalankan usaha catering
kecilnya itu. Walau suami beliau telah berpulang sejak 2 tahun yang lalu,
putra-putri mereka mampu hidup berkecukupan dari hasil usaha yang beliau
jalankan. Tante memang seorang wanita supel yang terpandang dan memiliki relasi
bisnis yang sangat luas bahkan beberapa kawannya di luar negeri sangat membuka
peluang bisnis untuknya. Kadang ia mendapatkan titipan barang-barang ‘kosmetik’,
‘sepatu’, baju-baju’ bahkan ‘alat-alat rumah tangga’. Allah begitu pemurah
melancarkan rizki bagi tante dan keluarganya itu yang tentu saja juga membantu
Fira dalam membiayai biaya-biaya sekolahnya. Sementara itu kedua orang tua Fira
juga masih sehat, namun mereka tinggal di Bandung bersama adik bungsunya.
Ibunya seorang guru di beberapa sekolah negeri dan swasta di kota kembang
tempat kelahirannya itu. Ayahnya seorang mantan pegawai negeri Departemen
Pertanian yang telah pensiun dan sekarang mencoba menjalankan Agrobisnis
buah-buahan dan tanaman hias di rumahnya, Jl. Tubagus Ismail 10 A – Bandung.
Namun nampaknya bisnis ayahnya tidaklah terlalu semarak dengan tingkat
penjualan yang memadai. Fira melihat ayahnya memang kurang bekerja keras
dibandingkan ibu dan tantenya, namun keluarga mereka cukup bisa bertahan hidup
dengan gaya hidup menengah, tidak sulit - tidak juga mewah.
”Fir, kita
lewat gang kecil itu saja ya – jalan pintas, lebih aman dan cepat”, Safa
mengusulkan sambil menarik tangan Fira agar mengikutinya. Fira menuruti saja keinginan
sahabatnya itu karena ia merasa jika mengambil jalan raya untuk sampai ke
sekolah mereka, SMU 2 – yang merupakan
salah satu sekolah favorit di Jakarta, mereka harus bersaing dengan mobil-mobil
pribadi para siswa anak-anak gedongan yang jumlahnya dari hari ke hari makin
memadati kompleks pendidikan yang lahannya sangat terbatas itu. Di samping itu
ia ingat ada seorang bocah usia belasan yang hampir setiap waktu berseliweran
sekitar kawasan itu, tanpa tujuan yang jelas. Bocah itu sesungguhnya masih
waras. Hanya karena lemahnya akal dan mental yang agak terbelakang serta
ketiadaan keluarga yang peduli padanya, akhirnya ia hanya menjadi ’orang gila’
yang jadi bulan-bulanan masyarakat dan ditakuti oleh anak-anak sekolah di
kawasan Setiabudi itu. Pejo, begitu para tukang ojek, tukang bengkel, tukang
parkir, abang bakso, ketoprak, dan siapapun warga yang mengais rezeki di
kawasan itu memanggilnya. Pejo hidup tak menentu, hanya berjalan kian kemari –
kadang diam, kadang menjahili orang yang lewat, dan yang paling sering jadi
korban adalah para siswa wanita remaja yang cantik-cantik. Itulah sebabnya Fira
berpendapat Pejo masih waras karena mampu dengan baik membedakan wajah cantik
dan biasa-biasa saja Kalau sudah begitu korban hanya merinding, menghindar dan
lari ketakutan tanpa boleh berekspresi takut karena jika Pejo menyadari
ketakutan orang yang digodanya, ia akan semakin ’bahagia’ menggoda. Pejo hidup
dari belas kasihan warga masyarakat Setiabudi tanpa mampu memperbaiki nasib
dirinya yang sungguh malang.
II. SMUN TERCINTA KAMI
Tak terasa
langkah mereka semakin mendekati gerbang sekolah. Nampak kemegahan gedung
sekolah peninggalan zaman Belanda itu SMUN 2 Jakarta memang benar-benar kuno
secara fisik dan hukum, itulah sebabnya banyak para pejabat sejak zaman orde
baru banyak menitipkan putra-putri mereka untuk dididik di sekolah ini, karena
percaya pada pengalamannya sebagai sekolah yang telah melahirkan tokoh-tokoh
masyarakat dalam berbagai bidang di Indonesia. Seperti biasa satpam sekolah
sudah setia menyapa orang-orang penting yang memasuki halaman sekolah. Cafe
Ncik di depan gerbang sekolah, masih kelihatan sepi- hanya sepasang siswa siswi
nampak berbincang-bincang sangat mesra sambil berpegangan tangan seolah takut
kehilangan satu sama lain. Nampak mereka memiliki ikatan emosional yang sangat
kuat – entah apa yang diperbincangkan. Jika mereka bicara masalah pelajaran,
tidaklah sesuai cara berinteraksi mereka dengan topik pelajaran apapun. Di
sekolah favorit nomor 2 itu memang sangat lazim pasangan siswa-siswi berbincang
mesra sekali seolah dunia milik mereka berdua – seolah tidak ada manusia lain
di sekita mereka, yang lain kontrak !.Kadang mereka berjalan beriringan memadu
kasih sepanjang jalan kenangan sambil senyum-senyum berdua atau saling
bergandeng mesra – seolah tak akan pernah terpisahkan.Fira geli sekaligus
prihatin menyaksikan peristiwa kemanusiaan, yang kadang melanggar nilai-nilai
kewajaran dan kesopanan itu. Apalagi mereka adalah pelajar yang sesungguhnya
dituntut untuk mampu berpikir rasional, analisis, sistematis dan metodis –
tidak hanya dalam menghadapi masalah-masalah akademis di kelas namun juga di
persoalan-persoalan di luar sekolah, di keluarga bahkan di masyarakat. Namun di
zaman globalisasi saat tidak jelas nilai benar-salah, baik-buruk atau haq –
batil dalam bahasa Qurani, siapa mau peduli dengan persoalan ’kecil’ masalah
yang dianggap pribadi seperti itu ? Memang di SMUN 2 Jakarta ada Rohani Islam
yang cukup tanggap mendiskusikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan bahkan
politik di negeri ini. Aturan pergaulan antara Muslim dan Muslimah juga sudah
sangat sering diangkat menjadi wacana yang sangat diminati oleh para siswa
intern dan ekstern SMUN 2. Namun sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran
mereka akan konsep HIJAB dalam Islam, yang tidak semata-mata masalah Jilbab
seperti yang selama ini disalahpahami; fenomena pergaulan bebas juga semakin
marak. Para ikhwan dan akhwat tidak pernah bosan memberikan contoh pergaulan
remaja yang Islami sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan teladan Rasulullah saw,
dan itu mereka pahami sebagai tanggung jawab seorang Ulil Albab atau tanggung
jawab sosial seorang calon intelektual di hadapan Allah swt. Fira belum seorang
jilbaber atau aktivis Rohis, tapi ia sepakat dengan nilai-nilai yang diajarkan
di Musholla An Nur yang ia cintai tersebut.
III. PAGI YANG BERMAKNA
”Hi, Fir,
kau bawa puisi yang aku pesan kemarin ?”. Seorang gadis berwajah oval mungil
dengan rambut lurus pendek – menyapa ceria sambil mengingatkan janji Fira. Dengan ramah Fira menjawab, ”Certainly
dear, I try not to forget my promise, especially for you!”. Fira membalas
dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih. Ia memang cukup menonjol untuk mata
pelajaran yang satu itu. Bukan dalam rangka sombong ia sering mempraktekkan
kemampuannya itu, tapi semata-mata karena ia merasa dapat berekspresi dengan lebih
pas jika menggunakan bahasa Inggris. Tak terasa langkah mereka, Fira, Safa dan
Asih sudah sampai di kaki tangga. Safa said ‘bye’, dan belok ke kanan untuk
masuk ke kelasnya, sedang Fira dan Asih bergegas menaiki tangga di lantai 2
gedung 4 lantai tersebut. Terlihat Sapto dan sekretarisnya Tanti sedang
bergegas menuruni tangga. Sapto sibuk berargumentasi dengan gayanya yang khas.
Fira tersenyum dalam hati mengingat bagaimana Sapto berhasil terpilih menjadi
ketua OSIS periode 2005/2006 karena tebar pesonanya dalam berorasi. Ia menang
mutlak dari 2 pesaingnya, yaitu Ivan dan Aji yang berkarakter sangat berbeda
dengan dirinya. Ivan bicara sangat tenang cenderung tanpa emosi, walau bobot
akademis kampanyenya sangat sarat, tapi tidak cukup mampu menarik hati audiance
yang sangat dinamis itu. Sedangkan Aji, yang juga pengalaman organisasinya
segunung tapi karena wataknya agak kaku, ala disiplin militer – audiance tidak
jatuh hati kepadanya. Sebenarnya Sapto tidaklah terlalu pintar, bahkan prestasi
akademisnya biasa-biasa saja. Tapi ia berhasil memadukan pengetahuan teori yang
ia miliki dengan ketrampilan praktis berorganisasi, ditambah dengan sifat lucu
dan kreatifnya yang membuat ia seperti magnet, mampu menarik mayoritas suara
pemilih ketua OSIS yang lalu. Sapto kadang berbicara tidak runtun, seringkali
loncat-loncat dari satu topik ke topik pembicaraan yang lain, namun ia memang
mampu menampilkan ide-ide cemerlang yang memberi spirit, dan kemampuan
empatinya cukup besar. Sapto nampaknya berbakat menjadi seorang orator ulung
kalau ia tidak salah langkah dalam mengembangkan dirinya. ’Memang hidup penuh
dengan berbagai kemungkinan’, demikian kata suara hati Fira.
Jam
menunjukkkan pukul 06.50 ketika mereka sampai di kelas 2 IPA 5. Ada sekitar 12
siswa sudah memasuki kelas berukuran 6 x 8 itu. 2 siswa piket sedang
membersihkan kelas dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Sampai di mejanya,
Fira mengeluarkan puisi yang ia janjikan kepada Asih-kawan sebangkunya. Puisi
tentang keperdulian lingkungan, berjudul ” Seandainya Jakarta Lebih Manusiawi”
yang mengekspresikan harapan seorang gadis dari desa akan Jakarta yang lebih manusiawi,
lebih bersih, lebih beradab, lebih santun dan lebih adil. Suatu utopis
barangkali, tapi itulah harapan yang jujur dari suara hati yang paling dalam.
Lagipula ia sudah paham dan sedang belajar bahwa seorang Mukmin sejati tidak
pernah berputus asa pada Rahmat Allah swt, akan segala harapan-harapan yang
nampak begitu sulit diwujudkan. Rencana puisi itu akan dibacakan Asih dalam
Pentas Seni yang akan digelar seminggu lagi, sebelum Perpisahan kelas 3
berlangsung.
Bel tanda
masuk berbunyi. Pak guru kimia memasuki kelas setelah 7 menit kemudian.
Anak-anak sibuk menyelesaikan PR tentang Reaksi Redoks yang tergolong sulit
itu. Pak Mursyid, guru kimia mereka adalah tipe guru yang sangat cakap dan
komunikatif. Beliau sangat cerdas dan bijak, para siswa sangat respek kepadanya
– namun tetap saja ada suara-suara aneh tentang guru ideal yang sudah mengabdi
di SMUN 2 Jakarta selama lebih dari 20 tahun itu. Sudah tak terhitung
murid-murid yang berhasil dicetak dari ’tangannya’. Data keberhasilan siswa
menunjukkan betapa kompetennya P Mursyid mendidik murid-muridnya sehingga mampu
sukses dalam bidang-bidang apapun yang mereka geluti di masyarakat. Beliau
tidak hanya mengajar tapi mendidik, membentuk karakter siswa sehingga mampu
berpikir analisis – sintesis, logis – rasional, sistematis –metodis, yang
ternyata semua itu membentuk perilaku dan kepribadian yang sangat sopan dan
santun. Karena P Mursyid sendiri juga seorang guru yang berkepribadian santun
dan sangat berwawasan luas serta sangat religious dan berakhlaqul karimah.. Beliau
adalah pembina OSIS untuk bidang Rohani Islam, di bawah bimbingannya Rohis
begitu berwibawa di mata OSIS dan Civitas Akademika yang lain, karena Rohis
mampu menampilkan argumen-argumennya yang yang rasional dan ilmiah berdasarkan
Al Quran dan Sunnah.Ajaran beliau yang utama adalah itikad baik, kesungguhan
dan keikhlasan. Satu ’kekurangan’ beliau adalah bicaranya yang singkat, tidak
boros kata-kata, padahal beliau mengajarkan mata pelajaran yang sangat
sulit. Itulah sebabnya, ketika P Mursyid
menerangkan suasana kelas begitu hening tak bergeming, selevel suasana kuburan
di malam hari. Jangankan bersuara, menggeser taspun, siswa akan berpikir dua
kali, bukan karena beliau galak tapi karena siswa tak ingin kehilangan
sepersekian detikpun untuk memahami semua keterangan P Mursyid.
Tak terasa 2
x 45 menit untuk pelajaran Kimia berlalu dengan berhasil diselesaikannya 10
soal reaksi redoks secara kolektif. Pak Mursyid mengakhiri pelajaran dengan
memberikan 5 soal variasi dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada yang
berhasil mereka selesaikan pagi itu. Semua soal-soal PR dalam kapasitas siswa
mampu mengerjakannya. Pak Mursyid mengingatkan,
”Anak-anak, coba kerjakan soal secara mandiri terlebih dahulu, baca
kembali teori-teorinya, ingat apa yang telah bapak terangkan. Jika masih sulit
juga baru kalian boleh berdiskusi. Hindari menyalin jawaban teman tanpa
berpikir karena hal itu akan membuat kalian bergantung pada teman. Paham
anak-anak ?”. ”Paham pak !”, serentak anak-anak menjawab spontan.”Assalamualaikum
anak-anak”, seru Pak Mursyid. ”Waalaikumsalam Pak”, jawab anak-anak dengan
penuh keikhlasan. Jam ke 3 - 4 adalah mata pelajaran Matematika. Sebenarnya
ini juga mata pelajaran favorit para siswa 2 IPA 5, yang tergolong pintar itu.
Namun entah mengapa, pagi itu pelajaran Matematika terasa sangat membosankan –
kurang menarik, tidak ada sesuatu yang dapat memacu semangat. Hukum-hukum
Trigonometri yang biasanya jadi santapan lezat para siswa, terasa begitu hambar
dan beku. Mereka merasa berat sekali melewati detik-detik pengerjaan soal yang
diberikan oleh Ibu Citra. Mungkin karena cara menerangkannya kurang inovatif,
soal-soal yang terlalu teoritis – jauh dari penerapan sehari-hari dalam
kehidupan mereka. Memang belajar menuntut daya kreativitas yang tinggi untuk
dapat mengapresiasikan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sangat teoritis itu.
Dibutuhkan bukan hanya ketekunan namun juga filosofis, kreativitas, kemerdekaan
berpikir serta keberanian mental mengkaji sesuatu sampai ke akar-akarnya. Tetapi
walaupun merasa bosan, para siswa tetap mengikuti pelajaran dengan baik. Mereka
memang anak-anak yang mampu berempati dengan guru-guru, dan siapapun yang
berbuat baik dan sangat berjasa dalam kehidupan mereka.
Waktu
istirahat diisi dengan beragam aktivitas yang melepaskan kejenuhan dan
ketegangan. Sebagian siswa pergi ke kantin untuk mengisi perut-perut mereka
yang memang sudah terasa kosong dan berbunyi berkali-kali. Tempat jajan utama
siswa cukup banyak di sekolah yang besar itu. Ada 3 kantin utama, yaitu kantin
dekat koperasi, warung ibu Ajum, cafe Ncik di depan gerbang utama – belum lagi
para pedagang bakso, ketoprak, pempek, lontong sayur dengan gerobak sepanjang
jalan Setiabudi 2. Tidak sedikit siswa yang mengisi istirahatnya dengan bermain
basket, volley atau sepakbola di lapangan sekolah yang luas itu. SMUN 2 Jakarta
terdiri dari 3 Jurusan : IPA, 14 kelas, IPS 8 kelas dan Bahasa 4 kelas, jadi
total 26 kelas, dengan jumlah siswa perkelas hanya rata-rata 30 siswa –jadi
total siswa SMUN 2 adalah 780 per angkatan atau sekitar 2340 siswa seluruh
angkatan. Jumlah yang sangat tidak sedikit tentunya, yang menuntut Manajemen
Sekolah yang dikelola dengan baik, dengan jiwa amanah dan dedikasi yang penuh
dari setiap unsur pimpinan dan pegawai sekolah untuk jabatan apapun.
IV. BINCANG-BINCANG BACA PUISI
Fira dan
Asih sedang akan menyebrang jalan Setiabudi 2 ketika Yoyok, ketua Biro Kesenian
OSIS mendekati mereka dan bertanya, ”Bagaimana Sih, siap dengan pembacaan puisi
Fira yang religious ?”.”Insya’Allah, Yok – Fira memang baru memberikan puisinya
tadi pagi – tapi aku sudah merasa familiar dengan cerita dan bahasa Fira”,
sahut Asih. ” Kau sendiri bagaimana, siap dengan Puisi bahasa Inggrismu yang
berjudul ........?” lanjut Yoyok, ”Let Nature Speak”, sambung Fira
melengkapi.”Oh iya itu”, sahut Yoyok lagi.”Insya’Allah Yok, aku coba mencari
detail teatrikalnya.”Jam berapa kamu nanti latihan, Sih ?”, tanya Fira pada
sahabatnya yang sekretaris Sie Teater itu.”Insya’Allah jam 3, selesai makan,
shalat dan rapat OSISl”. ”Ok, May I join your exercise then ?” asked Fira, ”Why
not1, with pleasure !”. ”Well, wish you all luck, girls”, Yoyok menimpali.
Mereka bertiga tertawa ceria penuh rasa syukur, dan bergegas memesan mpekmpek
yang hampir habis, makanan favorit mereka.
Kunyahan
Asih terakhir, Fira yang lebih dahulu selesai dan menyodorkan minum pada
sahabatnya, ketika bel istirahat
selesai. Mereka bergegas kembali ke kelas, mpek-mpek sudah dibayar di awal,
itulah kebiasaan mereka dalam membeli makanan apapun. Para siswa berebutan
masuk ke kelas mereka masing-masing, sambil terus mengobrol, becanda bahkan ada
yang sambil bermain games atau masih berhandphone ria. Dua jam terakhir adalah
Bahasa Inggris oleh ibu Sri Rejeki. 10 menit berlalu, ibu Sri Rejeki belum
kunjung tiba di 2 IPA 5, sesaat datang ketua kelas yang menyampaikan bahwa ibu
Sri Rejeki sakit, dan ada tugas Translation dari beliau tentang Global Warming,
yang harus dikumpulkan hari itu juga. Para siswa bergegas mencari kamus
Inggris-Indonesia & Indonesia – Inggris. Fira tenang saja di bangkunya
karena ia sudah memiliki Oxford Dictionary English-English, dan kamus khusus
Idioms yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi – sementara Asih menggunakan
kamus seperti kawan-kawannya, tapi miliknya sendiri.
Translation
adalah ketrampilan yang membutuhkan penguasaan grammar yang akurat, wawasan
kosa kata yang memadai, seni menyusun kalimat dengan pilihan kata-kata yang
tepat, dan kelihaian menangkap pesan wacana yang diterjemahkan. Lebih dari 50 %
siswa 2 IPA 5 menguasai bahasa Inggris cukup baik, namun Fira masih di atas
kemampuan rata-rata teman-temannya itu. Mereka tertantang untuk bekerja secara
mandiri tugas Translation itu, namun banyak pula yang enggan membuka kamus dan
lebih memilih untuk bertanya pada Fira, yang mereka anggap cukup pakar di
antara mereka. Al hasil Fira sangat sibuk membantu dan menjawab ke sana –
kemari. Alhamdulillah, ia juga cukup tegas membatasi bantuan sampai ia berhasil
menyelesaikan hasil Translationnya yang siap dikumpulkan pada ibu Sri Rejeki,
melalui ketua kelas – Adista.
V. SIRAMAN ROHANI PAK MURSYID
Siang itu
Fira dan Asih melaksanakan shalat Zuhur berjamaah di Musholla An Nur. Lumayan
ada sekitar 20 jamaah putri dan 30 jamaah putra yang bergabung dalam Kultum
siang itu, yang disampaikan oleh Bapak, H. Mursyid, SPd – selaku pembina Rohis
SMUN 2 Jakarta. Temanya tentang ”Bergaul Dengan Baik”. Menurut orang-orang
bijak, manusia adalah makhluk sosial – artinya mereka harus berkumpul dengan
sesamanya supaya dapat saling menyemangati, saling melengkapi dalam pekerjaan,
dan saling mendukung dalam usaha. Banyak jenis binatang yang sama dengan
manusia dalam hal mencari penghidupan. Tetapi cara dan rencana yang mereka
gunakan berbeda-beda. Al Qur’an Al Karim mengingatkan hal itu dalam beberapa
ayat; tentang beragam bangsa misalnya, Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al
Hujurat : 13, yang artinya :
”Dan Aku
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu”. Karena itu saudara-saudaraku
seiman-seperjuangan, kita tidak layak merasa bangga karena keturunan kita,
kekayaan kita, kedudukan kita atau bahkan kepandaian kita sekalipun – karena
ada ukuran yang lebih mutlak di ’mata’ Allah swt, yaitu ’Taqwa’.
Tentang
saling menolong yang benar, Allah Ta’ala berfirman :
”Dan
tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.(Al Maidah : 3)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda tentang hubungan antar sesama orang mukmin : ”Orang mukmin satu dengan
mukmin yang lainnya itu laksana bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang
lain”
Dalam QS Al Hujurat : 10, Allah
Ta’ala berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Rasulullah saw, bersabda : ”Perumpamaan
orang-orang mukmin dalam hal saling berkasih sayang di antara mereka adalah
seperti perumpamaan sebatang tubuh yang apabila salah satu anggotanya merasa
demam maka anggota-anggota yang lainnya ikut merasa demam dan bergadang”
Dari dalil-dalil di atas jelas bahwa
di antara sesama Muslim, apalagi Mu’min – wajib saling menolong. Kita adalah
satu tubuh – bukan bagian yang terpisah-pisah, jadi penderitaan seorang
Muslim/Mu’min adalah juga penderitaan Muslim/Mu’min yang lain – begitu pula
kebahagiaan/keberhasilan seorang Muslim/Mu’min adalah kebahagiaan Muslim/Mu’min
yang lain.
Demikian saudara-saudaraku,
anak-anakku yang bapak cintai – sampai di sini pembahasan Kuliah Tujuh Menit
kita. Semoga kita selalu dalam Hidayah ALLAH SWT. Bapak akhiri dengan
’Wabillahi Taufik Wal Hidayah – Wassalamualaikum Wr Wb’.
VI. RAPAT OSIS SAPTO
Waktu menunjukkan 5 menit menuju
pukul 2 siang, Fira dan Asih merasakan kantuk yang luar biasa, apalagi angin
semilir yang bertiup di sekitar teras Musholla begitu menyejukkan. Tapi tentu
saja mereka tidak boleh terlelap walau hanya 10 menit karena tepat pukul 14.00,
akan diadakan rapat OSIS, pertemuan koordinator Sie – Sie, yang akan
membicarakan persiapan Pentas Seni Siswa Peduli SMUN 2 Jakarta – yang akan
berlangsung hari Sabtu, minggu depan. Asih adalah bendahara Sie Teater,
sedangkan Fira adalah Koordinator Sie English – Conversation. Asih mewakili
Irdam – koodinator Sie Teater yang berhalangan hadir karena sibuk mempersiapkan
pentas Drama Anak Jakarta, yang merupakan acara puncak Pentas Seni Siswa Peduli
SMUN 2 yang mereka banggakan itu.
Sapto sendiri yang memimpin rapat
OSIS para Koordinator Sie, yang didampingi oleh sekretaris yang setia Tanti,
dan bendahara utama; Zahra. Para pejabat Teras OSIS adalah team yang sangat
kompak dalam menjalankan tugas-tugas organisasinya. Sapto memulai rapat dengan
membaca Ta’awuz - Basmallah, dilanjut dengan Puji-pujian terhadap ALLAH Swt dan
Salam & Shalawat untuk Rasulullah saw – Uswah & Teladan umat Islam dan
Al Insan sampai akhir zaman. Di dalam forum tersebut, ada Christa dari Sie
Rokris dan beberapa siswa non Muslim lainnya. Namun Sapto tidak ragu-ragu
menyampaikan Opening Rapatnya itu dengan Do’a Islami, bukan karena ia tidak
menghargai mereka yang non Muslim, tapi karena itulah Do’a Universal yang
insya’Allah membawa keselamatan untuk seluruh mahluk hidup di Jagad Raya ini.
Seluruh Sie dalam Struktur OSIS
mendapatkan kesempatan untuk menampilkan satu pertunjukkan dalam PenSi tersebut.
Sie Marching Band, Sie Vokal Group & Dance, Sie Rohani Islam dan Sie Rohani
Kristen, Sie Conversation & Orasi, Sie Sosial & PMR, bahkan Sie
Pencinta Alam & Olah Raga – serta yang terpenting adalah Sie Teater. Setiap
Sie menyampaikan persiapan yang telah mereka lakukan. Yoyok menyampaikan durasi
waktu yang dimiliki setiap Sie untuk tampil di panggung, rata-rata antara 7 –
10 menit. Rapat berjalan relatif lancar karena masing-masing Sie sudah
mempersiapkan paket performance mereka dengan baik. Persiapan mereka sudah
dimulai sejak sebulan yang lalu, 2 minggu setelah kepengurusan OSIS yang baru
tahun ajaran 2005/2006 terbentuk. Sapto nampak puas dengan kerja para stafnya,
sementara beberapa peserta berbincang dengan ketua OSIS yang cukup merakyat itu
– Zahra sibuk memberikan ulasan tentang Anggaran yang mereka miliki dalam
kegiatan ini. Selain dari sumbangan persiswa sebesar Rp 10.000,- panitia juga
mendapatkan kucuran dana dari beberapa sponsor, yaitu : Bank Sakti, MyDRINK dan
NURSafa Publisher serta Edeniqro’ Ltd.”Alhamdulillah, sampai saat ini panitia
berhasil menghimpun dana sebesar Rp 24.578.100,-” begitu Zahra
menerangkan.”Setiap Sie akan mendapatkan subsidi sebesar Rp 750.000,-; konsumsi
Rp 6.000.000; Dekorasi Rp 3.000.000,-, Dokumentasi Rp 4.500.000,-, Transportasi
Rp 2.000.000,- dan sisanya akan dibagi-bagikan kepada anak-anak Yatim dan
Jalanan sekitar kawasan Setiabudi ini. Semoga semua tidak keberatan dan dapat
rencana dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan, bagaimana teman-teman ?”
tanya Zahra kepada seluruh peserta rapat. Nampak tidak ada yang keberatan.Pukul
15.15, rapat ditutup dengan hikmat. Begitu Sapto mengucapkan salam penutup –
Azan Ashar berkumandang dan mayoritas siswa yang beragama Islam bergegas ke
Musholla untuk shalat berjamaah.
VII. PERJUANGAN SISWA TEATER
Fira merasakan kelelahan yang luar
biasa selepas Ashar berjamaah, ia sedang berpikir untuk membatalkan bergabung
latihan teater – membaca puisinya sendiri yang berjudul Let Nature Speak;
ketika seseorang mendekatinya dari balik hijab. Seorang ikhwan menyapa santun
sambil mengucapkan salam dengan lirih tetapi jelas. Ternyata Adista, ketua
kelasnya yang juga salah satu pengurus Sie Rohani Islam di SMU 2 Jakarta.
Ternyata Adista ingin minta bantuan Fira untuk translate konsep ISLAMIC EDUCATION
yang ia dapatkan dari internet sejumlah 5 halaman. Fira menyanggupi dalam waktu
2 hari karena ia merasa cukup banyak tugas-tugas sekolah maupun tugas membantu
tante Rahayu memasarkan kue-kuenya. Adista berterima kasih dan mengucapkan
salam.
Pukul 16.50 sanggar teater sudah
cukup dihadiri para anggota teater yang akan berlatih sore itu. Fira mengambil
posisi agak di pojok agar tidak nampak ia sedang kelelahan. Asih sibuk
berdiskusi dengan beberapa rekan teaternya. Ketika tepat pukul 4 sore, latihan
belum juga dimulai, Fira mulai berpikir ulang untuk melanjutkan ’join’ latihan
teater persiapan PenSi tersebut. Toh ia bukan pemeran utama, apalagi pembacaan
puisinya bersifat mandiri – itupun ia mewakili Sie Conversation-Orasi yang
dipimpinnya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk berpamitan saja pada Asih,
sahabatnya yang sedianya akan ia saksikan penampilannya.”Sih, maaf banget ya
aku gak jadi lihat kamu latihan, I’m extremally exhausted – will you let me go
home now, dear ?” Fira
request pada Asih.”Ya udah Fir, kalau kamu capek, it’s ok you go home first”,
jawab Asih ringan.”Thanx ya Sih, wish you perform the best” timpal Fira lagi. “No
problem, take care ya Fir”, “Assalamualaikum”, salam Fira sambil melambaikan
tangan “Waalaikum salam” Jawab Asih dan temanteman yang lain.
VIII.
FIRA PULANG SEKOLAH
Fira nyaris
tertidur total di metro mini 604 yang ia tumpangi. Namun selama di bis, ia
sempat berplanning bagaimana membantu tante Rahayu memasarkan kue-kue kecilnya.
Jika tidak ada kegiatan Excul, biasanya ia masih memiliki cukup waktu untuk
menawarkan kue-kue tantenya kepada beberapa guru, karyawan bahkan
teman-temannya sendiri. Tapi ia juga tidak menyesal memiliki kegiatan yang
segudang itu, demi untuk perkembangan dirinya, Ia juga berencana untuk memanfatkan
momen PenSi nanti untuk sekedar menawarkan pada audiance yang hadir – santai
saja tapi harus jujur, ramah dan meyakinkan- begitu kiat pemasarannya.
Rumah Sakit Tria Dipa nampak di
seberang jalan dari posisi 604 yang Fira tumpangi. Tak terasa bis hampir sampai
Apotek Pasar Minggu. Kemacetan selama satu setengah jam tidak ia rasakan karena ia tidur selama
di 604. Fira bergegas menuju pintu dan dengan sigap mengetuk atap bis sambil
berteriak ”Kiri ya Pak” baik kepada kondektur maupun supir di depan. Sukur
Alhamdulillah hari tidak hujan , sehingga walaupun hari sudah menjelang senja,
ia tidak terlalu merasa kerepotan untuk sampai di rumah dengan selamat. Tadi di
sekitar Duren Tiga ia sudah mendengar azan Magrib berkumandang, namun karena
mengantuk luar biasa ia tidak sempat membaca-baca doa menyambut waktu magrib.
Sekarang ia mencoba beristigfar dan mengucapkan Asmaul Husna dan Shalawat apa
saja yang ia hafal di luar kepala. Tidak sulit ia menyebrang dan mendapatkan
minicab biru 61 jurusan Pasar Minggu – Pondok Labu, walau tempat duduknya
sangat pas – tapi ia tetap naik mobil terakhir yang mengantarkan ia ke rumah
tante Rahayu di belakang SMK 67 –
kelurahan Rawa Terang itu.
Memasuki halaman rumah tante, ia
bergegas keluarkan kunci rumah yang memang diberikan oleh tante untuk
mempermudah ia keluar masuk rumah tersebut. Tante Rahayu seorang wanita Jawa
yang sangat lembut namun cerdas dan berpikiran maju, sangat demokrat dan
toleran terhadap anak-anak dan keponakannya. Ia teringat pada Bunda di Bandung
yang tinggal bersama Ayah dan adik bungsunya. Ia terharu mengingat keluarganya
yang begitu care dan sayang kepadanya- keluarga inti dan keluarga besar, dan
begitu juga sebaliknya. Ia sangat bersyukur pada Allah swt yang telah
memberikan nikmat yang begitu besar kepadanya; nikmat iman, nikmat sehat,
nikmat kasih sayang, nikmat kecerdasan dan bakat, nikmat silahturahmi, nikmat
rizki yang barakah, nikmat lingkungan yang bersahaja dan nikmat-nikmat lain
yang manusia tidak sanggup menghitungnya satu persatu. Allahu Akbar – 1 hari
yang padat telah ia lewati dengan penuh kesungguhan. Semoga bernilai ibadah di
hadapan Allah swt. Tante Rahayu sedang melaksanakan Shalat Magrib sendiri di
kamarnya, iapun bergegas berbenah untuk segera menghadap pada Sang Khaliq.
SENJA
Senja menawarkan
ketenangan
Membuka diri melepas
risau
Hari-hari lampau
Merebahkan letih
ambisi duniawi
Senja menawarkan kearifan
Menatap lurus hanya ke depan
Melangkah
takzim siratal mustakim
Senja menawarkan angin
Lembut semilir, ngelangut
Mengurai butir-butir khianat
Alpa bahkan murtad
Membimbing tobat
Allah !, tunggu sekejap
Aku akan menghadap
November
’92
dari
ZIKIR – Dendang Kerinduan
oleh
S. Saiful Rahim.
Sebret, 17 Mei 2008
dalam Kesenduan dan
Kesendirian
by Nur Safa Putri
Virginia (Susi Agustini Fathimah Az-Zahra)
Untuk Bubu-Papa,
kakak-kakak, keponakan-keponakan, All Yu
dan Teman-teman serta Murid-murid yang sensitif, cerdas dan mampu berempati
pada sesama yang kekurangan. Juga terutama untuk anak-anakku di Taman Rahmah
yang shaleh, lucu dan pintar. Selamat beribadah dan berprestasi selalu. Cinta
ibu karena Allah swt & Rasul saw, untuk kalian semua. Amin.