The sun still keeps
on the side of cloud
When the face of
capital city harrowing hope
The dust is jumping
as if it wanted to show
The broken light with
some wishes
Today it feels the
nature greets friendly
Forget all the past
sadness which had hit our village
Among the rest of
flood of water and mud
So gently throwing of
humanity of ……………
Attention,
satisfaction (fullness), warmth, love even only a grip of praying
Though the tears not
yet dried out
There is no wish to
make it eternal
Hi, will there be any
friendship ?
Among the politico,
biro racy, technocrat, until street singer & revenges ?
With the willingness of city nature, boundary, village as
well as mountain on the land & sea ?
Don’t you blame me,
the human……
During your power age
You always ignore us
You diminish our
forest-cut all the trees and plants
You abolish all the
water penetration area in which water is running for home
You contaminate our
environment which is still virgin with all your waste
You put your rubbish
of heart, mind and greed just to make us burden
Don’t you realize that we need to
breath, to talk and to actualize
ourselves
/ make the worth life
As it should be – Ya
Khalifatullah !
But why should you
destroy all what we have
From the most
valuable until what we don’t need to
Don’t you have heart,
hi the human ?
You spoil your own
heart and friends’ as well as the closest environment of yours
Where is your honesty,
love, sensitivity, smartness & humanity which so far
Become the sign of
your human
authority
Don’t be blinded by
the gold and diamond
Hi the servant of
ALLAH – we need to be regarded with all your privileges
Don’t be cruel to us,
don’t waste us, don’t destroy us, don’t
humiliate us
Clearly, you still
need us
For your own life, to
fertilize the earth, to make you welfare
We are in the same
level.
You are not my boss
You are the servant
of ALLAH as well as I’m used to be being so far
Let make the better
day; the better living; the better surrounding
Till the end of life;
forever …………………..
The end of February 2007
When many hearts blooded
Biarkan ALAM Bicara
Mentari masih berjaga
di sisi gumpalan awan
Ketika wajah ibukota
menyisir asa
Debu berloncatan
seakan menyingkap
Ada terpa sinar
menggeliat siratkan harapan
Hari ini terasa alam
ramah menyapa
Lupakan lara derita
yang kemarin menerjang kampung kami
Di antara sisa-sisa
serpihan endapan banjir air & Lumpur
Begitu deras arus
kemanusiaan mengulurkan …………..
Perhatian, rasa
kenyang, kehangatan, cinta ataupun hanya sejumput do’a
Pun air mata belumlah
kering
Tiada keinginan untuk
mengabadikan
Hai, adakah
persahabatan yang akan terjalin…….
Antara politisi,
birokrat, teknisi sampai dengan pengamen & pemulung jalanan ?
Dengan maunya alam
kota, perbatasan, desa ataupun pegunungan di darat & laut
Jangan kau berprasangka
pada kami, manusia
Sepanjang masa
kekuasaanmu
Tiada pernah kau
pedulikan kami
Kau habisi
hutan-hutan kami – tebangi pohon-pohon kami
Kau hilangkan daerah
resapan air
Yang rindu pada bumi
tempat berpulang
Kau cemari lingkungan
kami yang perawan suci dengan kekotoran buanganmu
Kau timbun sampah
hati-pikiran dan keserakahanmu
Untuk menambah beban
hidup kami
Tidakkah kau sadari
kamipun harus bernafas, bercakap-cakap & berkarya
Sebagai layaknya
engkau – wahai Khalifatullah
Kenapa engkau rusak
segala milik kami semua
Dari yang paling
berharga sampai dengan yang sudah tidak kami butuhkan
Begitu tidak punya
hatikah engkau wahai manusia ?
Sehingga engkau rusak
nuranimu, teman-teman dan lingkungan terdekatmu sendiri ?
Dimana amanahmu,
cintamu, kepekaanmu, kecerdasanmu dan kemanusiaanmu?
Yang selama ini jadi
tanda kekhalifahanmu ?
Banyaklah bertoubat
dan berzikir kepada ALLAH
Karena hidupmu bukan
milikmu
Dan kami tidak
berniat merusak atau mengurangi kebahagiaanmu
Dengan banjir akibat
hujan, sungai meluap atau banjir air mata, darah & Lumpur dosa ?
Wahai yang selalu
ingin dimanja, disanjung & diistimewakan
Coba sejenak tengok
nurani yang mungkin pekat
Oleh para jewish,
munafiqin dan kafirin
Ingatlah akan Kasih
Sayang ILAHI
Yang tak lapuk, tak
kurang oleh angin, air dan korosi zaman
Buang segala
kekotoran jiwa
Karena ia tak lagi
punya tempat
Untuk diri & alam
yang ingin hidup bersih, bersahaja dan beriman
Dalam SunatullahNYA
Selamanya……………………………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar