Waduh seperti judul novel remaja ABG
judul tulisan di atas - semoga not really
‘picisan’. Ada apa dengan diriku ? Mengapa semelankolis itu ? Banyak orang
mendefinisikan CINTA, tapi yang ingin kubahas di sini bukan sekedar definisi
atau kalimat-kalimat gombal, lebay yang mendeskripsikannya. Jadi apa perlu
membahas Cinta dan Sayang ? Dua kata yang hampir semakna, yang pasti sejalan
walau ada perbedaan sangat tipis, tidak prinsip terhadap 2 kata itu.
Sepasang remaja ingusan sedang dimabuk
asmara; jika kita cermati sms-sms mereka-hanya mengobral kata-kata cinta dan
sayang, yang tidak jelas maksud dan tujuannya-kecuali memuaskan afeksi-afeksi
mereka yang tanpa disadari hanya menghabiskan pulsa, waktu dan potensi-potensi
remaja mereka untuk dapat berprestasi akademis secara wajar. Tapi itulah fakta,
mereka tidak bisa dicela apalagi dilarang dengan ‘jatuh cintanya’ itu. Namun
sebagai orang tua, saya hanya bisa menghimbau dan menyarankan untuk bisa
berpikir, bersikap dan bertindak lebih rasional agar banyak energy tidak
terbuang percuma demi masa depan mereka sendiri.
Berbeda dengan rasa sayang (terkadang
juga jengkel) terhadap suami saya yang memang penyayang, ada potensi shaleh
(smoga makin berkembang), berkobar-kobar sekaligus suka aksi diam (baca :
impulsive), cerdas secara teknis (sebagian), sangat percaya pada pikirannya
(yang belum tentu benar) dan hati nuraninya (yang memang terasa tulus), tapi
sekaligus ‘agak badung’ kadang terobsesi, suka galak tiba-tiba dan
lain-lain………..
Whatever he is, I really love him…..Dan
saya selalu berdo’a pada Allah SWT, karena niat saya menikah karenaNYA, maka
saya mohon dijaga untuk terus menyayanginya karena DIA-Sang Pencipta kami. Sering saya sangat terharu dengan
kebaikan-kebaikannya, yang selalu ia tunjukkan sejak masa-masa pendekatan
dahulu sampai sekarang. Ia memperhatikan saya di saat orang-orang mengabaikan
saya. Ia memberikan saya solusi terhadap masalah-masalah praktis kehidupan saya
di saat saya tidak berdaya menghadapinya. Ia menawarkan bantuan pada saya di
saat saya benar-benar membutuhnya. Ia mendo’akan keluarga kami dengan ikhlas
dan selalu penuh semangat. Ia memahami saya di saat orang lain banyak tidak
memahami saya. Memang iapun punya kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan,
yang bukan hanya saya bisa melihat dan merasakan-namun dalam beberapa hal juga
membuat saya jengkel (kesal), marah-marah sendiri, yang hanya meja kursi,
perabot, tempat tidur dan boneka-boneka saya yang tau (he he he). Tapi memang
harus diakui ia punya kelebihan-kelebihan alami (pandai meniru berbagai suara
hewan-hewan)-dan ungkapan-ungkapannya seringkali tidak diduga, sangat jenaka
dan menggelitik. Ya Allah-Ya Rahman-Ya Rabbi-berkahi rumah tangga kami. Maafkan
kesalahan-kesalahan kami di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang;
ijinkan kami memiliki keturunan yang sehat dan shaleh(ah) yang akan menjadi
Qurota Ayun bagi kami di masa tua kami. Bawalah kami ke RumahMU di Ba’itullah.
Dan pertemukan kami kelak dengan para orang tua kami dalam naungan RidhoMU – Ya
Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa Alam Semesta. Amin Ya Rabbal
Alamin………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar