Senin, 10 November 2014

SEANDAINYA JAKARTA LEBIH MANUSIAWI




 
Kawan………….
Ingatkah saat kita baru saja singgah di kota ini ?
Dari desa tandus tempat kelahiran kita di pinggir pantai selatan P Jawa
Apa yang kau rasakan saat itu ?
Ku lihat matamu berbinar, penuh harapan membumbung
Akan nasib yang membaik di kota Metropolitan ini ?

          Dari detik ke menit, menit ke jam, kita lalui bersama.
          Ada sinar mata yang meredup terpancar dari sudut wajahmu
Saat itu kau belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang kau impikan
Menjadi bintang iklan makanan-minuman instan, atau sekedar figuran roman picisan
         
Dan ketika ada tawaran bekerja di pabrik konveksi kenalan Paman
Tanpa pikir panjang kau menolak mentah-mentah
Entah apa yang ada di pikiranmu
Aku tak paham argumenmu menolak
Yang kutahu itu adalah jalan terhormat menyambung hidup yang makin sulit

          Tak selamanya keinginan kita terpenuhi, kawan
Tiba-tiba banjir yang menggenangi rumah pamanmu seolah badai dalam hidupmu
          Pakaian-pakaianmu hanyut terbawa arus
Buku-buku yang kau niatkan sebagai bekal melanjutkan sekolahpun raib entah kemana.
Kasur dan perabotan rusak berat, saling copot besi, kayu dan paku-pakunya.
Bibi tempat engkau curhat jatuh sakit dan berpulang kepadaNYA
Engkau dan paman merasa sangat terpukul
Seolah hidup berakhir
Paman membujukmu untuk kembali ke desa
Tapi engkau gengsi setinggi langit karena merasa tidak punya wajah lagi

Kawan, kutahu bagaimana perasaanmu menghadapi cobaan hidup
Kucoba untuk mengajakmu sering-sering ke Mesjid
Untuk menata hidup lebih baik
Sayangnya kau menolak, dengan alasan semua itu kuno dan basi
Mesjid hanya untuk mereka yang sudah berbau tanah
Padahal usia manusia kita tak pernah tau persis

          Kau silau dengan kehidupan para selebriti
          Yang berbudaya gincu, dugem dan senang diberitakan
          Gosip  yang jadi konsumsi khalayak ramai
          Menjadi bintang iklan, dan bintang-bintang yang lain
          Dan hidup dugem serta menjadi topik entertaining,
          Itulah cita-citamu tertinggi

Sementara itu Jakarta semakin sarat dengan permasalahannya.
Banjir belum tuntas, menyusul kasus Taman Lawang, Narkoba yang membuat sakau generasi muda, remaja putri korban pelecehan, ancaman HIV, pengangguran, polusi yang semakin pekat, curanmor dan masih segudang lagi permasalahan memuncak di Metropolitan kita ini.

Saling terkait antara Moral, Sosial, Budaya, Ekonomi bahkan Politik korban kapitalist kaum Jahili. Namun seolah matamu tertutup. Untuk mau meniti jalan yang diridhoi.

Kawanku, dengarlah saranku ini. Aku sayang kau, aku cinta kau, kau saudaraku seiman,senasib- sepenanggungan.
Bahkan kita menghabiskan masa kecil bersama-sama di desa Emak dan Bapak kita.

Kawanku, saudaraku, ...................
Kembalilah pada Yang Menciptakan kita
Yang selalu peduli pada nasib kita
Yang tidak pernah mengabaikan kita
Asalkan kita mau menurutiNYA
Untuk hidup menurut MauNYA.
Sebab kita tidak punya pilihan lain

          Oh, saudaraku – seandainya Jakarta Lebih Manusiawi
          Aku tidak akan ’memaksamu’
          Namun kita adalah satu.
          Sakitmu juga sakitku
          Masihkah hatiMU tertutup
          Untuk menerima DIA sumber Kemanusiaan
          Dan CINTA Sejati hamba yang shaleh
          Pendamba KEBENARAN Sejati
         
Mari saudaraku
Waktu belumlah usai...........
Ku masih menunggumu......................
                                                                             Sebret, 15 Mei 200....
                                                                   based on Honesty by Safira



Tidak ada komentar:

Posting Komentar