Kawan………….
Ingatkah saat
kita baru saja singgah di kota ini ?
Dari desa tandus
tempat kelahiran kita di pinggir pantai selatan P Jawa
Apa yang kau
rasakan saat itu ?
Ku lihat matamu
berbinar, penuh harapan membumbung
Akan nasib yang
membaik di kota Metropolitan ini ?
Dari detik ke menit, menit ke jam,
kita lalui bersama.
Ada sinar mata yang meredup terpancar
dari sudut wajahmu
Saat itu kau
belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang kau impikan
Menjadi bintang
iklan makanan-minuman instan, atau sekedar figuran roman picisan
Dan ketika ada
tawaran bekerja di pabrik konveksi kenalan Paman
Tanpa pikir
panjang kau menolak mentah-mentah
Entah apa yang
ada di pikiranmu
Aku tak paham
argumenmu menolak
Yang kutahu itu
adalah jalan terhormat menyambung hidup yang makin sulit
Tak selamanya keinginan kita
terpenuhi, kawan
Tiba-tiba banjir
yang menggenangi rumah pamanmu seolah badai dalam hidupmu
Pakaian-pakaianmu hanyut terbawa arus
Buku-buku yang
kau niatkan sebagai bekal melanjutkan sekolahpun raib entah kemana.
Kasur dan
perabotan rusak berat, saling copot besi, kayu dan paku-pakunya.
Bibi tempat
engkau curhat jatuh sakit dan berpulang kepadaNYA
Engkau dan paman
merasa sangat terpukul
Seolah hidup
berakhir
Paman membujukmu
untuk kembali ke desa
Tapi engkau
gengsi setinggi langit karena merasa tidak punya wajah lagi
Kawan, kutahu
bagaimana perasaanmu menghadapi cobaan hidup
Kucoba untuk
mengajakmu sering-sering ke Mesjid
Untuk menata
hidup lebih baik
Sayangnya kau
menolak, dengan alasan semua itu kuno dan basi
Mesjid hanya
untuk mereka yang sudah berbau tanah
Padahal usia
manusia kita tak pernah tau persis
Kau silau dengan kehidupan para selebriti
Yang berbudaya gincu, dugem dan senang
diberitakan
Gosip yang jadi konsumsi khalayak ramai
Menjadi bintang iklan, dan
bintang-bintang yang lain
Dan hidup dugem
serta menjadi topik entertaining,
Itulah cita-citamu tertinggi
Sementara itu
Jakarta semakin sarat dengan permasalahannya.
Banjir belum
tuntas, menyusul kasus Taman Lawang, Narkoba yang membuat sakau generasi muda,
remaja putri korban pelecehan, ancaman HIV, pengangguran, polusi yang semakin
pekat, curanmor dan masih segudang lagi permasalahan memuncak di Metropolitan
kita ini.
Saling terkait
antara Moral, Sosial, Budaya, Ekonomi bahkan Politik korban kapitalist kaum
Jahili. Namun seolah matamu tertutup. Untuk mau meniti jalan yang
diridhoi.
Kawanku,
dengarlah saranku ini. Aku sayang kau, aku cinta kau, kau saudaraku
seiman,senasib- sepenanggungan.
Bahkan kita
menghabiskan masa kecil bersama-sama di desa Emak dan Bapak kita.
Kawanku,
saudaraku, ...................
Kembalilah pada
Yang Menciptakan kita
Yang selalu
peduli pada nasib kita
Yang tidak pernah
mengabaikan kita
Asalkan kita mau
menurutiNYA
Untuk hidup
menurut MauNYA.
Sebab kita tidak
punya pilihan lain
Oh, saudaraku – seandainya Jakarta
Lebih Manusiawi
Aku tidak akan ’memaksamu’
Namun kita adalah satu.
Sakitmu juga sakitku
Masihkah hatiMU tertutup
Untuk menerima DIA sumber Kemanusiaan
Dan CINTA Sejati
hamba yang shaleh
Pendamba KEBENARAN Sejati
Mari saudaraku
Waktu belumlah
usai...........
Ku masih
menunggumu......................
Sebret, 15 Mei 200....
based on Honesty by Safira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar