Banyak jalan
telah kutempuh
Walau tak rapi
– asa berpilah
Telah beratus rasa terungkap
Lewat sapa lembut sang rembulan
Dan gemintang yang berbinar jenaka
Menerangi sang lembah yang kadang angkuh
Bebatuan yang tegar menanti
Serta pepohonan – kawan setia
Wahai
lihat INDONESIAku
Dimana
air mata telah menjadi mata air
Sejuk
mengairi hati yang kering
Akankah
mampu kita bersyukur
Ketika
kemenangan semu begitu mendominasi
Kemana
kiblat kan kita arahkan
Agar
hidup tak sia-sia
Jauh
dari keberdayaan angkara
Menuju
keberdayaan insani
Tak
ragu tuk menyatakan
“Let’s SAVE THE EARTH
for
BETTER FUTURE GENERATION
just
for ALLAH’S BLESSINGS ;
INSYA’
ALLAH”
SALAM SEMESTA BERTASBIH
MEDIO, 17 JULY 2003 – by
Susi
Agustini FA
Dia yang berkata lewat senyum
Menyirat berjuta makna & 10 kerinduan
Rasa ingin tau seolah menggoda
Nurani yang hanya berdzikir
Dia
yang baru kukenal
Lewat
sapaan sepi beratus asa
Menjalin
hari demi hari
Bimbangkan
khayal & realita
Dia yang kini & esok
Tak
pernah kumengerti dasar hatinya
Dan
juga seribu dia
Kisah
anak-anak manusia terkubur sejarah
Saat kubercumbu dengan waktu
Satu-
dua-tiga detik merayu
Tak
ingin jiwa terbelenggu
Semata
hanya mencari dia
Wahai angin berhembus duka
Dan
langit berujung rindu
Tidakkah
engkau rasakan
Suara
pinus yang merajut purnama
Di
tengah badai harap dan lagu cinta
Juga
dendang rindu anak jalanan
Dia
yang sibuk mencari DIA
Bersama
alunan melodi budaya bangsa
Adakah
kesadaran menghentak lamunan
Dan membuat kita malu semata
Lewat
pilihan-pilihan hidup merdeka
Sudahkah dia pandang DIA
Agar
cinta dapat bersemi ?!……………………….
Dulu pernah kau ucapkan
sebuah kata
Tentang sia-sianya penyesalan
masa lalu
Dan seribu seratus harapan
Yang gilang gemilang
Lewat beberapa kata bijak
Yang meluncur bak berasal
dari mulut orator
Tiada jemu waktu berkisah
Akan sejarah yang lelah berpeluh
Seluruh mengalir seperti air di hulu
Cerah seria melakoni perannya
Walau juga sarat derita
Kini senyap berjuta makna
Di tengah keresahan yang tiada akhir
Begitu percaya akan kemerdekaan
Seolah itulah jalan terbaik
Sahabat …………
Kau di sana – aku di
sini
Satu rasa namun tak
satu kata
Pedih, luka &
berbagai kesulitan hidup
Campur-baur membentuk
sinergi hari esok
Semakin terang &
bercahaya
Akankah
ada kesalahpahaman ?
Bimbang – resah & rasa
sepi
Seolah
kawan yang paling setia
Adakah
kata yang salah ?
Atau
ia sudah tak akan punya makna ?
Apalagi
berbuah hikmah.
Semua sudah terlambat
Jelas laksana fatamorgana
Karena
luka hatipun tak pernah terbalut
Apalagi
sembuh & menjanjikan kekuatan
Kini
dan esok.
Lalu apa arti hari kemarin
Dimana diri begitu tegar
Tanpa tipu atau kemunafikan
Ya ILAHI
Karena kehendakMU sehelai daun jatuh ke bumi
KepastianMU pula bintang-bintang kejora tersenyum
Atau kelak akan berbenturan
Qun fayakun adalah keNISCAYAan
Sekaligus proses yang alami
Yang sarat ilmu, ruang & waktu
Sadarkah insan sang pendosa
Akan peluang kesempatannya
Betapa sayat pisau
itu
Telah mengikis habis hati
yang luka
Juga harapan milik
kaum mu’minin
Jangan biarkan api
kami padam, YA RABBI
Karena aksi kaum
munafik
Tak putus sampai akhir zaman.
Based on & for HONESTY
Senja telah sirna dari
haribaan Ibu Pertiwi
Ketika kami bersapa
untuk awal jumpa yang tulus
Kau tegak setia menanti
para penumpang
Merak menjadi saksi
ihtiar petualangan singkat
Hai, betapa sopan &
gagahnya kau kami jelang
Tak terasa rekatpun
lepas dari dermaga
Mufidaku melangkah
begitu perlahan
Siap mengarungi selat
sunda yang bersahaja
Masih kutatap goresan pantai
Jakarta yang ramai tak terasa sirna
Berganti deburan ombak yang
sangat halus
Menemani saat-saat kembalinya
perkawanan kita
Bersama para malaikat yang
berdzikir
Siap menjelang perjuangan kecil
Tiada waktu terasa jemu
Dalam persahabatan yang baru terajut
Walau asap akrab menemani
Indah saja terasa dalam kebersamaan
Mungkin ada masa depan yang lain kan
kuraih
Begitu suara nurani
Menjelang Subuh,
Mufida-ku merapat
Inikah Bakauheni yang
dinanti ?
Tampak tiada takluk
oleh si pembaru
Sekaligus
sedikit keramahan
Di antara suasana
penuh kesujudan
Mufida-ku
akan segera beranjak lagi
Dalam harapan
INDONESIA terangkai
Ketika langit menatap sayu senja temaram
Di pinggir pantai pelabuhan Merak metropolitan
Seakan menyapa birunya ombak berbisik
Bersama karang & ikan yang kadang menderita
Karena polusi ulah manusia tanpa akal
Saat itu kesadaran semesta setia menemani
Lembut anganku melanglang-buana menggapai awan
Lewat desau angin semilir
Aku kan datang padamu Bakauheni
Pelabuhan yang teramat
sering kudengar
Baru setelah mengenal
Gayam
Dan pos-pos yang
kulewati saat itu
Bersama kawan lama
yang raib mencari diri
Nama Bakauheni menjadi
begitu penting
Seolah dia adalah
perantara
Dan harapan insan yang
perduli
Akan Tafakur tiada
akhir
Merak
dan Bakauheni telah menjadi bagian hidupku
Yang
singgah dan lewat untuk KEUBUDIAHAN
Pada
DIA yang penuh cinta
Dan
aku siap menyambut apapun – Insya’ALLAH
Kehidupan
lebih baik diri dan semesta
Dengan
mereka yang senang bersujud & bersyukur
Dan
hanya berpamrih padaNYA.
Ya
RABBI, jangan biarkan aku terperdaya
Oleh kaum batil, dzalim, kafirin, fasik & munafikin
Ya ILAHI – Ya MALIKI - Ya SALAM …………..
Antara
Merak & Bakauheni
Kita
telah bicara
QS An Nahl 14
Dan
DIA-lah ALLAH yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya
dari yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya mencari
keuntungan dari karuniaNYA, dan supaya kamu bersyukur.
Dini hari, August 13, 2003
Langit mendung
Awanpun enggan
tersenyum
Sepoi angin seakan menangis sendu
Saat hati suci
milikNYA terluka
Bintang
di langit bertasbih ikhlas
Menyaksikan
dinginnya malam
Katak
& jangkrik yang riang bernyanyi
Seolah
mengabaikan perasaan pilu
Oh KASIH
Akankah kau dengar nyanyian
rinduku
Yang
telah 1000 tahun kudendangkan
Lewat
suara alam yang senantiasa peka
Dan
do’a biru yang tak putus
Kadang
berpuluh anggur berhasil kurengguk
Lewat
langkah-langkah nasib yang tak pasti
Dan
tangan-tangan lakon hidup
Senyum
hampa dan kematian
Ternyata
lebih kaya makna
Ya
ILAHI …………….
Kemanakah
nurani harus kukiblatkan ?
Tak
jemu hamba bertaubat
Menabung
ilmu, menebar harap
Akan
menuai hasil di masa depan
Oh DIKAU yang Maha
Mengasihi & Dikasihi
Yang selamanya penuh
misteri & mengundang rindu
Ajarkan kami bercinta
Dalam naungan CintaMU
Puisi ini hanya ditujukan untuk
orang-orang tercinta yang senang bertafakur, jauh dari konflik dan kesombongan,
penuh empati terhadap sesama dan mampu menerima & menciptakan berjuta
kebahagiaan kepada para saudara, terutama bagi mereka yang menderita.
Saudara-saudara di seluruh Tanah Air – Persada Bumi Pertiwi yang penuh dedikasi
kepada RABB, Pencipta-Pemilik-Pemelihara & Penguasa Alam Semesta. Tak ada
hidup tanpa pengorbanan, dan pengorbanan yang ikhlas tak akan sia-sia.
Always
with any LOVERS of The ALMIGHTY over the Sky & World – AMIN.
Sepi adalah sahabat terbaik
Yang tiada menghentak nurani
Ia bagai langit yang jernih
Siap mengayomi bintang-bintang
kejora
Tak putus menyirat taqdir
Sepi adalah yang
kurasakan
Kemarin,
hari ini dan mungkin esok
Lewat
detik-detik kemiskinan
Dan hiruk-pikuk akal
rasio
Sepi adalah
kerinduan
Yang
terabaikan tak berujung
Siap menangkap
dan ditangkap
Oleh para
pelamun cinta
Sepi
adalah puisi
Yang
tak berkata sepatah namun sarat makna
Lebih
dari berjuta kata yang indah
Bebas
interpretasi – pun aktualisasi
Dari
suara alam yang paling misteri
& penuh kejujuran
Sahabat ……………….
Di
saat hatimu sepi
Dan hampa menggigit
tulang
Jangan
biarkan setan merampas
Kebahagiaan
yang IA janjikan
Bagi
mereka yang terbuka nurani
Siap
mengolah sepi dan luka
Hadapi
realitas dengan berIQRO’
Mohon kekuatan pada
Sang Khalik
Karena
DIA-lah sepipun pergi
Fajar di langit baru bersapa
Akan melekatkan
hangat sang mentari
Jauh di antara
tujuh lapis langit
Arak do’a para
malaikat bertasbih
Riuh iringi
kelahiranmu
Nun di lubuk hati ibunda
Ungkapan bahagia bersimbah nyawa
Zat yang Maha Pengasih selamanya
Bashiiru
Untuk apapun yang Ia kehendaki
Lahir, jodoh, mati adalah
ketetapanNYA
Niat baik tak luput
pahala
Usangkan duka yang
pernah melintas
Rakyat adalah tempat
bercermin
Ikuti nurani yang bersahaja
Lailatul
Qadr selamanya dambaan
Akan
rahmatNYA yang tiada putus
Harap akan
pupus segala dosa
Insan yang
taubat
SELAMANYA
……………………..
![]() |
Rewritten on Jumadil Akhir 6, 1424 H
By
Putri Virginia
Bulan di atas pelangi
Siap berbincang
dengan kejora
Tak satupun
insan tersentuh
Pun senyum sang
mentari menghujani bumi
Pelangi yang hadir dalam sendu & rindu
Tidakkah engkau bermakna
Akan realitas negeri seberang
Dan dendam yang tak kunjung usai
Oleh insan yang saling
menghantam
Wahai matahari
berpantun bunga
Dan resah
menggigit kehampaan
Jangan biarkan
cintaku hanyut
Terbawa ombak
yang pandai bicara.
Bangkitlah
jiwa yang bersahaja
Saksikan
bulan di atas pelangi
Begitu
mesra berbincang dengan sang Surya
Di
antara langit yang penuh misteri
Menjaga
bumi tempat berpijak
Menghentak
badai oleh angin & guruh
Mungkinkah
luka hati ini
Dan
resah jiwa yang bergeliat
Melewati
zaman yang konon reformasi
Namun
tak pernah berlanjut dengan transformasi
Menatap bulan di atas pelangi
SAHABAT ………….
Jangan lupa
mengukir senyum nan tulus
Tegar menjalani
hidup yang singkat
Dan ucapkan
seribu juta do’a yang ikhlas
Jadikan hati
kita satu
Seperti bulan
di atas pelangi
SELAMANYA ………………………………….
Untuk Ibu & sahabat2, orang-orang tersayang, sahabat 2 terbaikku,
kelompok Perjuangan manapun, adik-adik
& murid2 yang pintar, rekan2 yang setia. Do’aku menyertai kalian
semua. INSYA’ ALLAH.
Matahari masih berjaga di sisi langit
Awan tersenyum lembut seraya menyapa
Di antara hembusan lembut semilir
Ada hati seputih kapas bak salju yang meleleh di antara
musim semi
Mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan girah masa lalu
Ada yang masih bersinar, banyak pula yang nampak kusam
Mencoba untuk menyusun mozaik, guci merah atau sekedar
lampu hias.
Ketidakteraturan bentuk menantang suatu kreativitas
Seakan mengisyaratkan bahwa hidup adalah beragam
Akan nuansa, warna, bentuk dan karakter bahan yang ada
Adalah representasi alam yang ingin berkata
Jangan biarkan hati seputih kapas meleleh
Legoso, 26 Maret 2006
Ketika merajut Taplak Pendidikan Ibu Pertiwi
Dengan segala keperdulian yang dalam
Semoga TUHAN meridhoi kita semua
Hari ini langit masih mengandung mendung
Dan matahari hanya bersinar redup
Walau awan tiada hendak menintikkan hujannya
Tapi bumi cenderung semakin layu
Di
sana di tanah berpasir liat
Seolah
bibit tanaman kan berseri tumbuh
Tapi
taqdurNYA tak kunjung tiba
Walau
petani sudah berpeluh
Adakah
asa yang tersisa
Masih
akan merajut Sang Hari
Tawa
dan tangispun terasa hampa
Bumi
tak hendak berkhianat pada Sang Langit
Apalagi
kecewa pada Sang EMPU
Tapi
adakah kata yang mampu
Sekedar
meyakinkan
Bahwa
IA sedang tersenyum
Pada
Bumi dan SEMESTA Alam
Jakarta,
11 Januari 2006
Di
antara luka
RABBI – CintaMU
begitu dekat
Tapi mengapa terasa
hampa
KasihMU begitu merasuk
Tapi mengapa terasa kering
HatiMU bulat
utuh
Tapi mengapa ku
tak mampu memandangnya
Mati
rasakah aku ?
Kekeringankah
aku ?
Begitu
pekakkah aku ?
Atau
butakah aku ?
Silaukah aku ?
ILAHI, mampukah
aku menemukan, merasakan dan
Menikmati ENGKAU ?
Sehingga
kelak aku dapat “Tersenyum” di hadapanMU ?!
Medio, tengah Januari 2006
Ketika hati sedang pilu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar